Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, 4 Mata Uang di Asia Lanjutkan Penguatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan mula Jumat (8/5/2026). Rupiah mengakhiri penguatan yang terjadi selama dua hari terakhir. Rupiah melemah 0,17% ke posisi Rp 17.362 per US$ pada pukul 09.07 WIB berdasarkan data Bloomberg.
Tak hanya rupiah yang melemah pada perdagangan mula Jumat ini. Yen Jepang juga terpantau melemah 0,01%, yuan China melemah 0,03%, ringgit Malaysia juga melemah 0,17%, dan peso Filipina melemah 0,1%.
Sementara itu, dolar Singapura, baht Tailan, dan rupee India melanjutlan tren menguat. Dolar Singapura menguat 0,02%, baht menguat 0,04%, dan rupee menguat 0,38%.
Baca Juga
Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, fluktuasi nilai tukar di kawasan Asia terjadi karena tensi geopolitik yang tetap tinggi di Selat Hormuz. Tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang melintasi jalur perairan strategis tersebut dilaporkan mencegat serangan Iran dan melakukan serangan balasan, meskipun Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata masih berlaku.
Serangan ini segera direspons pasar. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 3,72 bps ke 4,39%.
Andry melihat tensi di Selat Hormuz juga memicu fluktuasi harga emas yang diperdagangkan. Harga emas menyentuh sekitar US$ 4.700 per ons setelah mengalami volatilitas tajam pada sesi sebelumnya. Kondisi ini memicu kembali kekhawatiran inflasi.
Ekspektasi inflasi median satu tahun ke depan di AS meningkat untuk bulan kedua menjadi 3,6% pada Aprril 2026, tertinggi dalam setahun, dibandingkan 3,4% pada Maret 2026. Ketidakpastian inflasi untuk horizon satu tahun ke depan juga meningkat.
Di dalam negeri AS, terdapat sejumlah catatan terhadap indikator pekerja. Produktivitas tenaga kerja sektor bisnis non-pertanian AS naik 0,8% pada kuartal I-2026, melambat dari kenaikan revisi 1,6% pada kuartal sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,4%, berdasarkan estimasi awal.
Jumlah klaim tunjangan pengangguran di AS naik 10.000 dibandingkan pekan sebelumnya, yang menyamai level terendah sejak 1969, menjadi 200.000 pada pekan terakhir April. Angka ini masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 205.000 dan tetap jauh di bawah rata-rata historis maupun rata-rata terbaru.

