Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS, Sejumlah Mata Uang Asia Ikut Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,12% ke posisi Rp18.070 per dolar AS, sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Selain rupiah, penguatan terjadi pada yuan China yang naik 0,09%, yen Jepang 0,10%, dolar Hong Kong 0,01%, ringgit Malaysia 0,27%, dan dolar Singapura 0,07%.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru melemah terhadap dolar AS. Rupee India terkoreksi 0,61%, won Korea Selatan turun 0,07%, dan baht Thailand melemah 0,04%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mencatat Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan para pembuat kebijakan berkomitmen penuh memulihkan stabilitas harga dan tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang bertahan tinggi dalam waktu lama. Menurut Warsh, kebijakan yang tepat dapat mengatasi lonjakan inflasi yang terjadi dalam lima tahun terakhir.
Warsh juga menyampaikan perekonomian AS masih tumbuh dengan laju yang solid dan menunjukkan ketahanan di tengah berbagai perkembangan global. Konsumsi rumah tangga tumbuh moderat, sementara output manufaktur meningkat secara stabil sepanjang tahun ini.
Ia menilai investasi dunia usaha menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi AS, terutama didukung pembangunan pusat data serta tingginya permintaan terhadap peralatan dan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga
Dari sisi komoditas, Andry mencatat, harga minyak mentah naik di atas US$80 per barel dan melanjutkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Kenaikan dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan militer tambahan terhadap Iran setelah Teheran memberlakukan blokade AS di Selat Hormuz.
Trump menyatakan operasi militer akan terus berlanjut dan memperingatkan bahwa AS dapat menargetkan pembangkit listrik serta jembatan di Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Namun, Trump membatalkan rencana mengenakan biaya sebesar 20% terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, inflasi AS menunjukkan pelemahan. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS turun 0,4% secara bulanan (month on month/mom) pada Juni 2026, berbalik dari kenaikan 0,5% pada Mei dan lebih baik dari ekspektasi penurunan sebesar 0,1%.
Baca Juga
AS dan Inggris Susun Kerangka Bersama untuk Stablecoin dan Tokenisasi Aset
Penurunan tersebut menjadi yang pertama sejak Mei 2020 sekaligus yang terbesar sejak April 2020, terutama didorong turunnya harga energi sebesar 5,7% seiring pelemahan harga minyak mentah dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Selain energi, tekanan penurunan inflasi juga berasal dari biaya asuransi kendaraan bermotor, komunikasi, pakaian, layanan kesehatan, serta harga mobil dan truk bekas. Di sisi lain, harga pangan naik 0,2%, baik untuk konsumsi di rumah maupun di luar rumah.
Adapun CPI inti AS, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, tercatat tidak berubah pada Juni 2026, lebih rendah dibandingkan perkiraan kenaikan sebesar 0,2%.
