Rupiah Menguat ke Rp 17.686 Per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (28/8/2026). Rupiah menguat 0,32% ke posisi Rp 17.686 per dolar AS pada pukul 09.09 WIB.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Selain mata Uang Garuda, penguatan nilai tukar mata uang juga terjadi pada ringgit Malaysia yang menguat 0,13%, dolar Singapura menguat 0,06%, dan won Korea Selatan yang menguat 0,32%.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.692, Harga Minyak Dunia Jadi Katalis
Sementara itu, nilai tukar mata uang lain di kawasan Asia terpantau melemah. Yuan China melemah 0,03%, yen Jepang melemah 0,04%, dan baht Tailan melemah 0,18%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa indeks dolar AS atau DXY melemah tipis 0,01% menjadi 99,16%. Pelemahan ini terjadi karena data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dan keengganan investor untuk membangun posisi dolar AS dalam jumlah besar menjelang konferensi the Fed di Jackson Hole.
Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 203.000 di bawah ekspektasi sebesar 208.000.
Andry melihat ekspektasi kebijakan the Fed masih cenderung mengarah pada keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC pada September 2026. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 35,9%.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS, Pasar Menanti Respons The Fed atas Inflasi
Meskipun pejabat the Fed menyoroti risiko inflasi, pasar masih menunggu pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh untuk memperoleh sinyal yang lebih jelas mengenai fungsi reaksi the Fed terhadap perkembangan ekonomi.
Risiko geopolitik mendorong harga minyak naik tajam. Harga minyak mentah Brent meningkat 2,12% menjadi US$ 89,7 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak kembali ke ketentuan gencatan senjata sebelumnya dengan Iran. Hal tersebut mengurangi optimisme terhadap penyelesaian konflik dalam waktu dekat dan membuat risiko gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz tetap tinggi.
