Rupiah Terapresiasi karena Pelemahan Dolar, Pasar Tunggu Kabar The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah menguat ke Rp 16.365 per dolar AS menurut data Bloomberg pada Selasa (16/9/2025) pukul 10.02 WIB. Nilai tukar tersebut terapresiasi 50 poin atau 0,31% dibanding penutupan sebelumnya, didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Indeks dolar AS atau DXY melemah ke 97,3 pada Senin (15/9/2025) level terendah sejak akhir Juni 2025. Tekanan terhadap dolar terjadi karena pelaku pasar menunggu keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait pemangkasan suku bunga.
Selain rupiah, mata uang di kawasan Asia juga menguat. yen Jepang terapresiasi 0,18% terhadap dolar AS, yuan China menguat 0,03%, dan dolar Singapura menguat 0,06%.
Baca Juga
Mata Uang Asia Menguat, Cuma Rupiah yang Loyo pada Awal Pekan Ini
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan fokus utama investor adalah proyeksi makroekonomi terbaru dari The Fed. Selain itu, pasar juga mencermati konfirmasi Stephen Miran sebagai gubernur The Fed, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.365 hingga Rp 16.455 per dolar AS," ujar Andry dalam keterangannya.
Ia memperkirakan rupiah akan tetap berada di bawah Rp 16.500 per dolar AS jika tekanan eksternal tidak bertambah.
Di sisi lain, Bank of Canada diperkirakan memangkas suku bunga, sementara Bank of Japan dan Bank of England kemungkinan mempertahankan suku bunga. Hal ini menambah optimisme pasar terhadap aset berisiko.
Penguatan rupiah juga didukung sentimen positif di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (15/9/2025) naik 1,06% ke 7.937,12. Aliran modal asing bersih (net buy) tercatat sebesar Rp 1 triliun, menunjukkan minat investor global terhadap pasar Indonesia.
Baca Juga
Rupiah di Level Rp 16.468 per US$, Lesu di Akhir Perdagangan Kamis Sore
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 0,6 basis poin (bps) ke 6,34%, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun naik 0,4 bps ke 4,94%. Kenaikan imbal hasil masih terbatas sehingga tidak menekan pergerakan rupiah secara signifikan.

