JAKARTA, investortrust.idPada sepekan terakhir rupiah mampu terapresiasi 2,40% week to week (wtw). Hal ini didukung semakin menguatnya prospek perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan mitra dagang, sehingga risiko ketidakpastian global semakin menurun.

"Sentimen risk-on sebelumnya juga sudah meningkat akibat sinyal dari perkembangan perjanjian dagang antara AS dan mitra dagang AS lainnya. Level dari rupiah saat ini sudah kembali ke range sebelum risiko perang dagang mengemuka atau sebelum libur panjang Lebaran," kata Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman kepada Investortrust, dikutip Minggu (04/05/2025).





Baca Juga

Aliran Modal Asing Sepekan Rp 4,15 Triliun, Rupiah Perkasa


Kurs rupiah ditutup menguat hingga di bawah level Rp 15.500 per dolar AS, dalam perdagangan Jumat (02/05/2025). Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat signifikan 186 poin (1,11%) ke level Rp 16.493 per dolar AS.

Faisal Rachman mengungkap, rupiah terapresiasi 1,01% ke level Rp 16.435 per dolar AS berdasarkan data kurs Bank Permata, pada Jumat. Hal ini didukung oleh berita tentang pihak Cina yang mengevaluasi terkait kemungkinan pembicaraan perdagangan dengan AS.

"Hal ini kemudian meningkatkan ekspektasi meredanya ketegangan perang dagang antara AS dan Cina," kata Faisal.



Petugas bank saat menghitung uang di Kantor Pusat KB Bank Syariah, Salemba, Jakarta, Selasa (19/3/2024). Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal.


Baca Juga

Produksi Beras Maret Melonjak 49,90% Tembus 5,14 Juta Ton, NTP Turun

Menguat terhadap Yen dan Euro