Harga Emas Turun Saat Dolar Menguat, Pasar Tunggu Sinyal AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada Selasa (21/4/2026) seiring penguatan dolar AS, di tengah sikap hati-hati investor yang menanti perkembangan perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta proses konfirmasi calon Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di Senat. Pelemahan ini menandai perubahan arah setelah sebelumnya logam mulia sempat naik akibat ketegangan geopolitik pada akhir pekan.
Harga emas turun 0,9% menjadi US$ 4.777,77 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 0,7% ke US$ 4.797,90.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 40.000 di Tengah Tekanan Global
Penguatan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga menekan permintaan. Di sisi lain, pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik yang belum pasti.
Analis MarketPulse by OANDA Zain Vawda mengatakan pelaku pasar masih menahan diri karena ketidakjelasan hasil negosiasi antara Washington dan Teheran. Ia menilai sentimen pasar cenderung netral hingga ada kepastian dari kawasan Timur Tengah.
“Pasar ragu-ragu tentang potensi kesepakatan antara AS dan Iran, mengingat perkembangan akhir pekan dan retorika yang beragam. Hal ini menahan para pelaku pasar bullish untuk saat ini dan dapat membatasi harga emas dalam kisaran yang sempit sampai kepastian tiba,” kata Vawda dilansir CNBC.
Ia memperkirakan harga emas bergerak dalam kisaran US$ 4.750 hingga US$ 4.850 per ons dalam jangka pendek. Pergerakan di luar rentang tersebut, menurutnya, akan sangat bergantung pada hasil pengumuman geopolitik dari kawasan Timur Tengah.
Ketidakpastian meningkat setelah Amerika Serikat menyampaikan optimisme terkait potensi kelanjutan perundingan damai dengan Iran di Pakistan. Namun, pejabat senior Iran menyebut Teheran masih mempertimbangkan keikutsertaan, di tengah kecaman terhadap dugaan serangan terhadap kapal dagang Iran, Touska, pada akhir pekan.
Sentimen ini juga memengaruhi pasar energi. Harga minyak dilaporkan turun karena ekspektasi bahwa kesepakatan damai dapat meningkatkan pasokan dari kawasan Teluk yang merupakan pusat produksi minyak global.
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Diuntungkan Tren Emas Investasi, Analis Patok Target Harga Ini
Namun demikian, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian. Lonjakan harga minyak sebelumnya, terutama setelah eskalasi konflik pada akhir Februari, meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Dalam kondisi tersebut, emas biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai.
Meski begitu, kenaikan suku bunga yang tinggi cenderung menekan daya tarik emas. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil, sehingga menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga ketika biaya pinjaman meningkat.

