Emas Tersandung Dolar, Pasar Tunggu Sinyal Tarif AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun pada Selasa (24/2/2026) setelah menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, tertekan aksi ambil untung (profit taking) dan penguatan dolar AS. Sementara pelaku pasar menunggu kepastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta hasil pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran. Koreksi ini dinilai masih bersifat teknikal di tengah fundamental permintaan aset aman yang tetap kuat.
Harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 5.158,24 per ons. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup 0,9% lebih rendah di US$ 5.176,30.
Dolar AS naik 0,1%, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Penguatan dolar tersebut menekan minat beli emas di pasar internasional.
Analis Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan harga emas sebelumnya menunjukkan tren kenaikan sehingga pelemahan kali ini kemungkinan hanya koreksi sementara. “Harga emas sebelumnya kembali cenderung naik, jadi saya menduga ini hanyalah koreksi sementara,” ujarnya dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Naik 2% ke Level Tertinggi 3 Minggu Seusai Trump Naikkan Tarif Impor
Ia menambahkan bahwa dolar yang lebih tinggi juga berdampak negatif terhadap harga emas.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi tiga minggu di awal sesi perdagangan. Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji menaikkan bea masuk menjadi 15% menyusul putusan Mahkamah Agung yang menyatakan penggunaan undang-undang darurat untuk memberlakukan tarif melampaui kewenangannya.
Namun pada Selasa, Pemerintah AS memberlakukan tarif 10% untuk semua barang yang tidak dikecualikan, sesuai pengumuman awal Trump pada Jumat pekan lalu. Kebijakan tersebut memicu ketidakpastian baru di pasar global.
Di sisi geopolitik, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa. Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik militer antara kedua negara yang telah lama bermusuhan.
Wyckoff menilai permintaan terhadap aset aman masih relatif kuat. “Ini karena ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif yang membatasi penjualan emas, sehingga fundamental tetap mendukung,” katanya.
Namun ia mengingatkan bahwa ketika harga mendekati rekor tertinggi, pasar biasanya menghadapi resistensi kuat dan membutuhkan katalis geopolitik baru untuk mencetak level tertinggi berikutnya.
Emas dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai yang biasanya diminati saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Menguat Rp 40.000 di Tengah Ketidakpastian Tarif Trump
Secara terpisah, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat berpotensi memasuki fase pengangguran struktural yang lebih tinggi. Menurutnya, adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) oleh perusahaan dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja, perubahan yang mungkin tidak dapat diatasi hanya dengan penurunan suku bunga oleh bank sentral.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,2% menjadi US$ 87,21 per ons setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi lebih dari dua minggu. Sementara itu, harga platinum naik 1% menjadi US$ 2.175,95 per ons dan paladium melonjak 2,3% menjadi US$ 1.785,35 per ons.

