Kebutuhan Pembiayaan Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tembus Rp 9.200 Triliun pada 2029
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia akan meningkat menjadi sekitar Rp 9.200 triliun pada 2029, dari kisaran Rp 7.400 triliun pada 2026.
Oleh karena itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut dia, peningkatan kebutuhan pembiayaan tersebut perlu diantisipasi dengan memperkuat kepercayaan investor, serta mendorong diversifikasi sumber pembiayaan, termasuk dari pasar internasional.
Sementara, kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, menurut dia telah tercermin dari peringkat kredit yang masih dipertahankan oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional. S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB, sementara Fitch memberikan peringkat BBB dan Moody’s pada level Baa2.
Airlangga menilai terdapat peluang untuk memperbesar sumber pembiayaan dari pasar internasional melalui diversifikasi instrumen. Beberapa instrumen yang dapat dimanfaatkan antara lain Panda Bond dan Samurai Bond.
Selain itu, hubungan ekonomi Indonesia dengan China juga dinilai memiliki potensi untuk mendukung diversifikasi pembiayaan. Nilai perdagangan Indonesia-China saat ini mencapai sekitar US$ 150 miliar. Indonesia juga memiliki Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan China melalui Bank Indonesia, sekitar US$ 50 miliar.
Baca Juga
Airlangga: ETF Emas Perkuat Kedalaman Pasar Keuangan, Indonesia Berpeluang Salip India
“Kalau ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman. Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi tentu akan lebih baik,” ujar Airlangga saat memperingati HUT Pasar Modal dan Peluncuran ETF Emas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).
Dia menambahkan, realisasi investasi telah mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun atau tumbuh 7,2% (yoy). Capaian ini diiringi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% sepanjang kuartal II-2026 dan 5,45% sepanjang semester I-2026, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang sekitar 3%.
“Makanya saya lihat para investor di pasar modal tetap penuh senyum dan happy,” imbuh Airlangga.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi berbagai reformasi yang dilakukan untuk memperkuat sektor keuangan Indonesia agar semakin kredibel, dalam, inovatif, dan berdaya saing.
Ia turut mengapresiasi komitmen pelaku pasar terhadap sejumlah agenda reformasi, termasuk penguatan pasar dan rencana demutualisasi.
“Sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun ke-49, dan selamat untuk ETF emas,” tutupnya.

