Investasi Hilirisasi Nikel Tembus Rp 41,5 Triliun, Maluku Utara Diproyeksikan Jadi Acuan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Hilirisasi nikel terus menjadi motor utama investasi industri pengolahan mineral di Indonesia. Pada kuartal I-2026, realisasi investasi sektor hilirisasi mencapai Rp 147,5 triliun, dengan nikel menjadi kontributor utama yang menyerap sekitar Rp 41,5 triliun.
Kendati demikian, keberhasilan hilirisasi kini tidak hanya diukur dari besarnya investasi dan kapasitas produksi. Industri juga dituntut memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi syarat utama untuk mengakses pasar global.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam diskusi “Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience” yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia Ovan Tito mengatakan pihaknya bersama sejumlah pemangku kepentingan telah mengunjungi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel nasional.
Baca Juga
Subsidi EV Berbasis Nikel Perkuat Hilirisasi dan Tekan Impor BBM
“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan, dikutip Kamis (4/6/2026).
Kontribusi hilirisasi terhadap ekonomi nasional juga semakin signifikan. Nilai ekspor produk turunan nikel melonjak hampir 10 kali lipat dari US$ 3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$ 34 miliar pada 2024.
Dengan kontribusi sekitar 13%-15% terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini menjadi salah satu pusat strategis dalam rantai pasok mineral kritis global. Pada kuartal I-2026, ekonomi provinsi tersebut tumbuh 19,64%, tertinggi di Indonesia.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan keberhasilan hilirisasi harus diikuti peningkatan peran masyarakat lokal dalam rantai nilai industri. Untuk itu, pemerintah daerah mendorong penguatan pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, sehingga ke depan semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis," ucap Sherly.
Menurut dia, pembangunan kawasan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan peluang usaha.
Di sisi lain, meningkatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global membuat aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) semakin mendapat perhatian pasar internasional.
Baca Juga
PPN Mobil Listrik Nikel Ditanggung 100%, Hilirisasi kian Ngebut
Executive Director NiPERA Chris Schlekat menilai daya saing industri nikel Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan membuktikan praktik keberlanjutan yang dapat diverifikasi secara objektif.
“Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Untuk itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif,” tutur Chris.

