Menanti Pengumuman BI Rate, Rupiah Dibuka Melemah Hari Ini
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah dibuka melemah dalam perdagangan spot Rabu (20/3/2024) pagi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 4 poin ke level Rp 15.722 per USD, setelah sebelumnya berada di posisi Rp 15.718 per USD dalam penutupan perdagangan kemarin.
Berdasarkan data terbaru kurs Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap greenback kemarin sore. Rupiah melemah ke level Rp 15.712 per USD, atau tergelincir 40 poin dari penutupan hari sebelumnya.
Pada Rabu (20/3/2024) sore ini, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil pertemuan Dewan Gubernur BI. Salah satu yang dinanti tentunya mengenai posisi suku bunga acuan, BI rate.
Ekonom senior Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto memprediksi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI masih akan melanjutkan keputusan untuk mempertahankan BI rate tetap di level 6,0%. "Outlook atau ekspektasi inflasi tahunan (year-on-year) ke depan cenderung naik. Hal ini didorong oleh kenaikan harga beras dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, sesuai dengan harga keekonomian," kata Ryan menjelaskan.
Inflasi Pangan dan transportasi.
Ia menambahkan, situasi saat ini menjelang hari raya Idulfitri akan menjadi perhatian pula. Menurut Ryan, momen Idulfitri dapat menjadi sentimen kuat mengerek tingginya inflasi bulanan, seiring dengan kenaikan harga kelompok pangan dan transportasi.
Ia juga menjelaskan dari sisi eksternal (global), stance kebijakan moneter masih cenderung ketat atau hawkish. Salah satunya dari kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Jepang (Bank of Japan) menjadi positif 0,1%, dari sebelumnya suku bunga negatif.
Baca Juga
Wall Street Lanjutkan Penguatan Jelang Pengumuman The Fed, Dow Jones Melonjak di Atas 300 Poin
Keputusan RDG BI menahan BI Rate tetap 6% juga relatif tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan, fungsi intermediasi oleh industri keuangan (utamanya perbankan), serta tidak mengendurkan aktivitas sektor riil atau dunia usaha.
"Ini lantaran perbankan condong tidak akan mengubah stance kebijakan suku bunganya," ucap Ryan.
