Menanti Hasil Pertemuan Dewan Gubernur BI, Rupiah Dibuka Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang pengumuman hasil pertemuan Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) siang nanti, rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu (21/02/2024). Rupiah melemah 15 poin ke level Rp 15.675 per USD, setelah sebelumnya tergelincir dalam penutupan perdagangan Selasa (20/02/2024).
Pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi memperkirakan, BI akan tetap menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 6%. Menurut Ibrahim, prediksi BI mempertahankan suku bunga tersebut lantaran inflasi dalam negeri saat ini tetap terjaga.
"Di sepanjang tahun 2024, saya memperkirakan rupiah akan menunjukkan stabilitas nilai tukar yang condong menguat. Ini didukung oleh meredanya ketidakpastian global, kecenderungan penurunan imbal hasil (yield) obligasi negara maju, serta penurunan tekanan penguatan dolar AS," paparnya dikuti Rabu (21/02/2024).
Ekonomi AS) dan India
Selain itu, ekonomi Amerika Serikat (AS) dan India tetap kuat berkat konsumsi rumah tangga dan investasi yang terus mendukung. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat lantaran konsumsi rumah tangga dan investasi tetap lesu, dipengaruhi oleh pelemahan sektor properti dan keterbatasan stimulus fiskal.
Berbagai sentimen eksternal diperkirakan juga turut memengaruhi posisi rupiah yang mengalami tren melemah dalam beberapa waktu ke belakang. Menurut Ibrahim, para pedagang mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed, setelah serangkaian pembacaan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan Januari lalu, sementara beberapa pejabat The Fed juga memperingatkan agar tidak bertaruh pada penurunan suku bunga lebih awal.
"Risalah pertemuan terakhir The Fed, yang dijadwalkan pada hari Rabu, kemungkinan akan menjadi rilis utama bagi investor minggu ini. Investor memperkirakan penurunan suku bunga The Fed sekitar 90 basis poin tahun ini, menurut perkiraan pasar uang, turun tajam dari sekitar 145 basis poin pada awal Februari," ucapnya dikutip Investortrust, Rabu (21/02/2024).
Kemudian di Asia, Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) memangkas suku bunga acuan pinjaman lima tahun sebesar 25 basis poin lebih besar dari perkiraan menjadi 3,95%, seiring dengan langkah bank tersebut untuk lebih melonggarkan kondisi moneter dan menopang pemulihan ekonomi. Namun, para investor meragukan apakah langkah tersebut akan secara signifikan membantu perekonomian Tiongkok, mengingat suku bunga Tiongkok telah berada pada rekor terendah selama hampir dua tahun.
Selain kekhawatiran melemahnya perekonomian negara importir komoditas terbesar di dunia ini, Inggris dan Jepang juga memasuki resesi pada akhir tahun 2023, meningkatkan kekhawatiran atas melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

