Rupiah Bergerak Melemah Jelang Pengumuman BI Rate
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang pengumuman BI Rate, pada Kamis (19/2/2026). Rupiah terdepresiasi -0,26% ke posisi Rp 16.928 per US$.
Posisi mata yang negara-negara mitra dagang Indonesia, hari ini juga bergerak beragam mencerminkan reaksi terhadap indeks dolar AS atau DXY yang sebesar 97,7.
Yuan China melemah terhadap dolar AS sebesar -0,05%. Pelemahan serupa juga terjadi pada yen Jepang yang melemah -0,12%. Won Korea Selatan juga melemah -0,11%. Dolar Singapura dan peso Filipina melemah masing-masing -0,02% dan -0,09%.
Sementara itu, di balik pelemahan ini, baht Tailand menguat 0,14% terhadap dolar AS. Kondisi serupa juga dialami euro Uni Eropa yang menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2,49 bps menjadi 4,08% (-8,43 bps sejak awal tahun).
Baca Juga
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,09% dari level terendah lebih dari dua bulan di 4,04% yang tercapai pada 16 Februari, seiring risalah rapat terakhir Federal Reserve mencerminkan nada kebijakan yang lebih hawkish dari FOMC.
Banyak pembuat kebijakan menyatakan bahwa proses penurunan inflasi harga konsumen mungkin memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan, sehingga perlu menunggu lebih lama sebelum kembali memangkas suku bunga. Inflasi CPI pada rilis terakhir tercatat 2,4%, di bawah ekspektasi pasar dan setelah rapat Fed bulan Januari, namun masih berada di atas target 2% Fed yang terakhir tercapai sekitar lima tahun lalu.
Beberapa anggota FOMC juga mencatat bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk menekan inflasi, menegaskan adanya perbedaan pandangan di dalam komite. Sementara itu, obligasi tenor panjang tertekan oleh kemungkinan bahwa Ketua Fed yang akan datang, Kevin Warsh, dapat mendorong neraca yang lebih kecil, sejalan dengan sikapnya yang sebelumnya menentang pelonggaran kuantitatif selama krisis keuangan global.
Output manufaktur AS meningkat 0,6% pada Januari 2026, tertinggi sejak Februari 2025 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,4%. Output manufaktur barang tahan lama naik 0,8%, dengan peningkatan di hampir semua subsektor, termasuk kenaikan minimal 1% pada produksi produk mineral nonlogam, mesin, komputer dan elektronik, barang tahan lama lainnya, serta kendaraan bermotor dan suku cadang, yang meningkat untuk pertama kalinya sejak Agustus 2025.
