Rupiah Dibuka Loyo Jelang Pengumuman RDG BI, Meski Indeks Dolar AS Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah masih menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah loyo di posisi Rp 16.962 per US$, Rabu (21/1/2026).
Rupiah belum dapat memanfaatkan momentum bangkit dari tekanan dolar AS. Sebab, indeks dolar AS atau DXY tergelincir ke level 98,5. Posisi ini terjadi karena tensi yang berkembang antara AS dengan beberapa negara Eropa menyusul keinginan Presiden AS, Donald Trump menguasai Greenland.
Papan data Bloomberg, pukul 09.08 WIB, menunjukkan rupiah melemah 0,04%. Pelemahan mata uang juga terjadi pada mitra dagang Indonesia seperti China, Malaysia, dan India. Yuan melemah 0,08% dan ringgit melemah 0,05%, serta rupee melemah 0,07%.
Di tengah pelemahan DXY, mata uang beberapa negara menunjukkan penguatan. Dolar Hongkong menguat 0,02%, yen Jepang menguat 0,09%, dolar Singapura menguat 0,02%, dan baht Thailand menguat 0,45%, serta peso Filipina menguat 0,23%.
Baca Juga
IHSG Menguat, Rupiah Melemah: Menkeu Sebut Ada Fenomena Menarik di Pasar
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan persoalan tensi geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Akibat tensi yang meningkat, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 6,96 basis poin (bps) menjadi 4,29%.
Trump menyatakan delapan sekutu Eropa akan menghadapi tarif bertahap, dimulai dari 10% pada 1 Februari dan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni, kecuali tercapai kesepakatan yang memungkinkan Washington “membeli” Greenland. Trump juga mengancam akan mengenakan tarif sebesar 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak bergabung dalam inisiatif “Board of Peace” terkait Gaza.
Harga minyak mentah WTI AS turun lebih dari 1% menjadi sekitar US$ 59,5 per barel pada Rabu, menghapus kenaikan pada sesi sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik dan ekspektasi peningkatan persediaan.
“Kekhawatiran akan potensi keretakan hubungan AS–Eropa masih berlanjut setelah Washington menyatakan ambisinya di kawasan Arktik, yang memicu kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan melemahnya permintaan energi,” kata dia.
IHSG (20/1/2026) naik tipis 0,01% ke 9.134,7 dengan investor asing mencatatkan net outflow sebesar Rp 91,7 miliar atau masih terjadi net inflow Rp 6,5 triliun secara tahun kalender. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun naik 2,6 bps menjadi 6,32%. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah USD tenor 10 tahun (INDON) naik 8,9 bps menjadi 5,0%.
Dengan pelemahan yang terjadi pada Selasa (20/1/2026), rupiah telah melemah sekitar 1,56% secara tahun kalender. Hari ini, rupiah diproyeksikan akan bergerak pada kisaran Rp 16.915-17.010 per US$.

