Rupiah Menguat di Sesi Penutupan Perdagangan Akhir Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Rupiah menguat sebesar 0,15% menjadi Rp 17.897 per dolar AS.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, mencatat posisi rupiah berada di Rp 17.913 per dolar AS. Hingga penutupan pasar, indeks dollar AS (DXY) tercatat sebesar 99,97.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pasar sepanjang Jumat ini mengamati kondisi di Timur Tengah. Media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyerang apa yang mereka sebut sebagai "target-target bermusuhan" di Selat Hormuz dan berencana melarang kapal-kapal AS serta Israel melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Perkembangan ini terjadi setelah para pejabat Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran sudah memasuki tahap akhir.
Baca Juga
Rupiah, Ringgit, dan Rupee Berbalik Melemah, Sejumlah Mata Uang di Asia Lanjutkan Penguatan
Sebelumnya, pada Kamis, saat Iran meninjau rancangan undang-undang untuk melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz—jalur yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari. Para analis menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pekan ini mengisyaratkan bahwa ketegangan antara Iran dan AS belum berakhir.
Secara terpisah, gerakan Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan berskala besar terhadap pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat meluas ke seluruh kawasan.
Meskipun ketegangan kembali memanas, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa perang akan berakhir "dalam waktu dekat" dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memegang kendali atas Selat Hormuz.
Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, menyusul laporan Financial Times bahwa Ketua Federal Reserve Kevin Warsh siap menaikkan biaya pinjaman jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang.
Para investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS pada hari Jumat, yang dapat menjadi ujian besar berikutnya bagi ekspektasi terkait prospek kebijakan Federal Reserve. Para pembuat kebijakan tidak dapat membiarkan inflasi yang terus-menerus tinggi sembari menunggu kemungkinan bahwa pertumbuhan produktivitas yang lebih kuat pada akhirnya akan meredakan tekanan harga.

