Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global sepanjang 2026 dan jauh dari krisis. Namun, di balik ketahanan tersebut terdapat persoalan yang semakin mencolok: pertumbuhan dan pemulihan konsumsi domestik semakin banyak ditopang masyarakat kelas atas, sementara daya beli kelompok menengah dan bawah justru melemah.
Gambaran tersebut terungkap dalam Quarterly Economic Outlook Q2-2026: Pertumbuhan, Stabilitas, & Ketahanan, yang disusun Office of Chief Economist (OCE) Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Juli 2026, yang diterima Investortrust, Jumat (07/08/2026).
Kajian OCE BRI memperlihatkan divergensi pertumbuhan antarkelas ekonomi semakin lebar. Pada kuartal I-2026, estimasi pertumbuhan ekonomi kelompok atas mencapai 8,0% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari 6,5% pada 2025.
Sebaliknya, pertumbuhan kelompok bawah hanya sekitar 3,6%, sedangkan kelas menengah lebih rendah lagi, 3,5%. Angka tersebut melemah dibandingkan pola pertumbuhan kelompok menengah dan bawah selama 2023-2025 yang relatif berada pada kisaran 4,5%-4,9%.
OCE BRI menilai perkembangan itu menunjukkan pemulihan ekonomi belum berlangsung merata. Daya dorong konsumsi domestik semakin terkonsentrasi pada masyarakat berpendapatan tinggi, sementara konsumsi mass market yang menjadi basis besar perekonomian masih menghadapi tekanan.
Baca Juga
Indef Soroti Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Bergantung pada Stimulus
Kesenjangan Daya Beli Semakin Lebar
Divergensi pertumbuhan tersebut sejalan dengan perkembangan indeks daya beli. Hingga April 2026, indeks daya beli kelompok bawah merosot menjadi -1,0, dari -0,6 pada April 2025. Indeks kelompok menengah turun dari -0,6 menjadi -0,9. Pada saat bersamaan, indeks daya beli kelas atas relatif stabil pada kisaran -0,1.
Dengan indeks di bawah nol menunjukkan kondisi daya beli lebih rendah dibandingkan periode normal yang menjadi basis perhitungan, data tersebut memperlihatkan tekanan terhadap kelompok menengah dan bawah jauh lebih berat dibandingkan kelompok atas.
OCE BRI mengingatkan pelebaran kesenjangan daya beli antarkelas berpotensi memengaruhi kualitas pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga Indonesia secara struktural masih sangat bergantung pada kelompok menengah dan bawah. Karena itu, ketika kemampuan belanja kelompok tersebut melemah, pertumbuhan konsumsi berisiko tidak lagi bersifat luas atau broad-based.
Hasil kajian OCE BRI senada dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (03/08/2026), tentang melebarnya ketimpangan. Di tengah penurunan angka kemiskinan, ketimpangan pengeluaran masyarakat justru menunjukkan peningkatan. Rasio gini naik dari 0,363 pada September 2025 menjadi 0,368 pada Maret 2026, meski masih lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 0,375. Ketimpangan di perkotaan tetap lebih tinggi dibandingkan perdesaan, dengan rasio gini masing-masing mencapai 0,387 dan 0,296. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan rasio gini tertinggi sebesar 0,435, sedangkan Kepulauan Bangka Belitung terendah sebesar 0,214.
Konsumsi Tumbuh, tetapi Ada Faktor Lebaran
Secara agregat, konsumsi rumah tangga sebenarnya menunjukkan akselerasi pada awal tahun. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,52% yoy pada kuartal I-2026, naik dari 5,11% pada kuartal IV-2025 dan bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelum pandemi 2017-2019 sebesar 5,01%.
Namun, OCE BRI mengingatkan pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan konsumsi secara struktural. Kuartal I-2026 bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri, yang secara musiman meningkatkan pengeluaran masyarakat untuk makanan dan minuman, pakaian, transportasi, serta kegiatan sosial dan keagamaan. Pembayaran tunjangan hari raya (THR) turut meningkatkan likuiditas rumah tangga.
Indeks Daya Beli Indonesia memang membaik dari -0,55 pada kuartal IV-2025 menjadi -0,40 pada kuartal I-2026, tetapi masih berada di bawah titik netral nol. Dengan demikian, kemampuan belanja masyarakat secara keseluruhan belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal.
Konsumen Mulai Menahan Belanja
Sinyal kehati-hatian semakin terlihat memasuki kuartal II-2026. Proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi turun menjadi 72,1% pada April 2026, setelah sebelumnya mencapai 75,4% pada Juli 2025.
Sebaliknya, bagian pendapatan yang disimpan meningkat cukup tajam. Porsi pendapatan untuk menabung naik dari 13,7% pada September 2025 menjadi 18,2% pada April 2026.
Perubahan tersebut mengindikasikan rumah tangga mulai memperbesar bantalan keuangan menghadapi ketidakpastian. Preferensi instrumen investasi juga bergeser. Selain deposito perbankan, masyarakat semakin melirik emas, properti, saham dan reksa dana serta instrumen lainnya.
Baca Juga
Ekonom Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Bisa Terus Bertumpu pada Belanja Pemerintah
Konsumsi Non-Pokok Justru Melaju
Menariknya, perubahan struktur konsumsi semakin menunjukkan kuatnya peranan kelompok berpendapatan tinggi. Rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga pascapandemi bergeser menuju barang dan jasa diskresioner atau non-esensial, terutama transportasi dan komunikasi serta restoran dan hotel. Sebaliknya, konsumsi kebutuhan esensial seperti makanan dan minuman di luar restoran, pakaian, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan cenderung tumbuh lebih lambat.
OCE BRI mengacu antara lain pada literatur Banerjee & Duflo (2008) dan Asian Development Bank/ADB (2010), yang menunjukkan kategori konsumsi diskresioner memiliki elastisitas terhadap pendapatan yang relatif tinggi dan lebih banyak dikonsumsi masyarakat kelas menengah-atas.
Fenomena yang sama terlihat pada penjualan perusahaan terbuka. Penjualan perusahaan sektor barang kebutuhan pokok atau staples hanya tumbuh 3,65% yoy pada kuartal I-2026, melambat dari 6,27% pada kuartal IV-2025.
Sebaliknya, penjualan perusahaan sektor barang non-pokok atau non-staples melesat 28,93%, meningkat dari 26,94% pada kuartal sebelumnya. Kesenjangan tersebut menjadi indikator lain bahwa permintaan barang diskresioner yang terutama dikonsumsi kelompok berdaya beli lebih tinggi masih sangat kuat.
Tabungan Kelas Atas Melonjak 15,99%
Divergensi semakin jelas dari simpanan masyarakat di perbankan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang diolah OCE BRI, simpanan kelompok atas dengan saldo di atas Rp2 miliar tumbuh 15,99% yoy pada April 2026.
Sebaliknya, simpanan kelompok menengah-atas dengan saldo Rp500 juta-Rp2 miliar hanya tumbuh sekitar 3,04%. Simpanan kelompok menengah-bawah dengan saldo Rp100 juta-Rp500 juta tumbuh sekitar 3,15%.
Simpanan kelas bawah mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 5,38%, tetapi rata-rata saldo per rekening tetap berada pada level rendah.
Data tersebut memperkuat kesimpulan bahwa akumulasi likuiditas masyarakat masih terkonsentrasi pada lapisan teratas. Kelompok berpendapatan tinggi mempunyai kapasitas lebih besar untuk mempertahankan konsumsi sekaligus meningkatkan tabungan dan investasi.
Pekerjaan Informal Jadi Persoalan
Tekanan daya beli kelompok bawah dan menengah juga berkaitan dengan struktur pasar kerja. Jumlah pekerja informal mencapai 87,7 juta orang pada Februari 2026, atau sekitar 59,4% dari seluruh pekerja.
Yang menjadi persoalan, pendapatan pekerja informal secara konsisten berada di bawah upah minimum. Pada 2025, rata-rata upah pekerja informal hanya sekitar 59% dari upah minimum regional (UMR).
Lapangan kerja berupah rendah juga terkonsentrasi pada sektor dengan jumlah pekerja besar. Rata-rata upah bulanan sektor pertanian, misalnya, hanya sekitar Rp1,835 juta, jasa lainnya Rp1,867 juta, serta akomodasi dan makan-minum Rp2,397 juta.
Kondisi tersebut membuat kelompok menengah-bawah lebih rentan menghadapi kenaikan harga pangan, energi, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari.
Daya Beli Menengah-Bawah Makin Tertekan
OCE BRI bahkan memperkirakan tekanan terhadap kelompok tersebut belum selesai. Dengan pendekatan ekonometrika Three Stage Least Square (3SLS), rata-rata indeks daya beli kelas menengah-bawah diproyeksikan turun dari -0,53 pada 2025 menjadi -0,67 pada 2026.
Sebaliknya, rata-rata indeks daya beli kelas atas diperkirakan meningkat dari 0,13 menjadi 0,56 pada periode yang sama, atau sudah berada di atas kondisi normal.
Pelemahan kelompok menengah-bawah terutama dipengaruhi tekanan inflasi, tingginya suku bunga, pelemahan rupiah, terbatasnya penciptaan lapangan pekerjaan berkualitas, serta kondisi likuiditas perekonomian.
Baca Juga
Laju Pertumbuhan Ekonomi Global Semester II-2026 Diprediksi Menurun
Penjualan Ritel Terpukul, IKK Turun
Sejumlah indikator berfrekuensi tinggi memperlihatkan pelemahan konsumsi semakin terasa menjelang akhir semester pertama.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 pada Juni 2026. Angka tersebut masih berada di atas 100 atau zona optimistis, tetapi menunjukkan masyarakat menjadi lebih berhati-hati.
Penjualan ritel yang sempat tumbuh 6,5% pada awal tahun berbalik mengalami kontraksi 4,4% pada Juni 2026. Penjualan sepeda motor juga melemah.
Pada sektor produksi, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot menjadi 46,9 pada Juni 2026. PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam zona kontraksi.
OCE BRI menyimpulkan momentum konsumsi dan produksi domestik hingga Juni 2026 relatif belum solid.
Dunia Usaha Mulai Menahan Ekspansi
Kehati-hatian juga terlihat pada dunia usaha. Indeks Ekspektasi Aktivitas Bisnis diperkirakan turun dari 14,8% Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II menjadi 11,8% SBT pada kuartal III-2026. Ekspektasi investasi juga turun ke level terendah dalam satu tahun terakhir.
Sebanyak 12 dari 17 sektor ekonomi diproyeksikan kehilangan momentum pada kuartal III. Penguatan aktivitas hanya terkonsentrasi pada manufaktur, perdagangan, listrik dan gas, serta administrasi pemerintahan, sementara jasa perusahaan menguat dari basis yang rendah.
Koreksi pada pertanian serta pelemahan transportasi dan informasi-komunikasi membuat ekspansi perekonomian semakin bergantung pada sejumlah kecil sektor penopang.
Inflasi Naik, Tekanan Produsen Lebih Tinggi
Persoalan lain datang dari inflasi. Inflasi konsumen Indonesia meningkat menjadi 3,34% yoy pada Juni 2026, dari 3,08% pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,44%.
Inflasi inti naik menjadi 2,76%, sedangkan inflasi harga bergejolak atau volatile food mencapai 5,58%. Sementara administered prices mulai normal setelah efek basis rendah pada awal tahun.
Yang perlu dicermati adalah inflasi di tingkat produsen. Wholesale Price Index (WPI) melonjak 6,51% yoy, hampir dua kali inflasi konsumen.
Kesenjangan tersebut menunjukkan produsen menghadapi tekanan biaya yang belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. Bila margin usaha semakin sempit, kenaikan biaya bahan baku, energi, dan logistik berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga konsumen beberapa bulan berikutnya.
El Nino Bisa Tambah Inflasi 0,79 Poin Persentase
Risiko pangan juga meningkat akibat indikasi El Nino sejak April 2026. Berdasarkan estimasi OCE BRI, fenomena El Nino berpotensi menambah inflasi sekitar 0,79 poin persentase, terutama melalui gangguan produksi dan distribusi pangan.
Risiko tersebut menjadi semakin besar apabila El Nino terjadi bersamaan dengan kenaikan harga beras, ongkos distribusi, dan tekanan nilai tukar.
Pelemahan rupiah sendiri meningkatkan ancaman imported inflation. OCE BRI menghitung korelasi perubahan kurs dengan inflasi CPI sebesar positif 0,52 selama Januari 2015-Juni 2026.
Pada Juni 2026, imported inflation diperkirakan menyumbang sekitar 1,10 poin persentase terhadap inflasi konsumen 3,34%.
Rupiah Dinilai Undervalued
Tekanan rupiah masih menjadi salah satu risiko utama. Rupiah tercatat sekitar Rp18.055 per dolar AS pada awal Juli 2026, dipengaruhi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, dan arus keluar modal asing dari pasar saham.
Namun, berdasarkan sejumlah model fundamental OCE BRI—mulai dari Real Effective Exchange Rate (REER), Uncovered Interest Rate Parity, Sticky Price Monetary hingga Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER)—rupiah diperkirakan berada sekitar 2%-5% lebih lemah dibandingkan nilai fundamentalnya.
REER rupiah tercatat 88,92 dengan basis 2020=100, menunjukkan mata uang Indonesia berada dalam kondisi relatif undervalued.
BI Keluarkan Banyak “Amunisi”
Bank Indonesia merespons tekanan tersebut melalui kenaikan suku bunga, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan intervensi pasar valuta asing.
BI-Rate telah meningkat dari 4,75% pada akhir 2025 menjadi 5,75% pada Juni 2026. Yield SRBI tenor 6-12 bulan melonjak ke kisaran 7,3%-7,7%.
Cadangan devisa, di sisi lain, turun dari US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$145,6 miliar pada Juni 2026, antara lain mencerminkan penggunaan cadangan sebagai buffer untuk meredam volatilitas pasar valuta asing.
OCE BRI memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 6,00% pada 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah.
Neraca Perdagangan Sempat Defisit
Sektor eksternal juga menghadapi tekanan. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 kembali mengalami defisit untuk pertama kalinya sejak April 2020.
Defisit terutama berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis, mesin dan peralatan listrik, bahan bakar mineral, plastik, serta sejumlah bahan baku dan barang modal.
OCE BRI memperkirakan neraca perdagangan secara kumulatif masih berpotensi surplus sepanjang 2026, tetapi besarannya cenderung menyempit karena moderasi harga komoditas dan perlambatan permintaan global.
Defisit migas diperkirakan tetap menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap kebutuhan devisa Indonesia.
Indonesia Jauh dari Krisis
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, OCE BRI menegaskan kondisi Indonesia masih jauh dari krisis.
Mayoritas indikator makroekonomi, perbankan, dan eksternal dinilai jauh lebih kuat dibandingkan episode krisis sebelumnya. Namun, pelemahan neraca transaksi berjalan, tekanan rupiah, dan penurunan cadangan devisa tetap menjadi faktor risiko yang harus diantisipasi.
Untuk keseluruhan 2026, OCE BRI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4,84%-5,10%, inflasi 3,13%-3,72%, rata-rata rupiah Rp17.316-Rp17.838 per dolar AS, dan BI-Rate pada kisaran 5,75%-6,25%.
Baca Juga
Ekspansi Melambat pada Semester II-2026, Perbankan dan Industri Lebih Berhati-hati
Perbankan Masih Solid, tetapi Bantalan Menipis
Industri perbankan masih menjadi salah satu penyangga ekonomi. Hingga kuartal II-2026, kredit tumbuh 12,67% yoy, sedangkan DPK tumbuh 11,16%.
Namun, Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 88,32%, menandakan ruang likuiditas semakin ketat.
Gross Non Performing Loan masih terkendali sekitar 2,17%, tetapi Net Interest Margin turun menjadi 4,36% dan Capital Adequacy Ratio merosot menjadi 23,74%.
Dengan demikian, perbankan masih resilien, tetapi menghadapi kombinasi kenaikan biaya dana, penyempitan marjin, tekanan likuiditas dan risiko kualitas kredit.
Kredit Bank Makin Selektif
Penyaluran kredit baru meningkat tajam menjadi 93,1% SBT pada kuartal II-2026, dibandingkan 38,7% pada kuartal sebelumnya. Penguatan berlangsung pada kredit modal kerja, investasi, maupun konsumsi.
Secara sektoral, peningkatan kredit terbesar terjadi pada konstruksi, disusul transportasi dan informasi-komunikasi, pendidikan, serta real estat. Sebaliknya, manufaktur, perdagangan, keuangan, dan pertambangan kehilangan momentum.
Kredit UMKM non-KUR juga meningkat tajam. SBT penyaluran kredit kelompok tersebut mencapai 81,2%, naik dari 44,7% setahun sebelumnya. Kredit non-UMKM mencapai 93,3%.
Namun, bank memperkirakan penyaluran kredit baru turun menjadi 84,7% SBT pada kuartal III-2026. Proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 oleh responden survei juga terus diturunkan hingga 7,51%.
Inflasi Menghantam Kredit Mikro
Tekanan harga mempunyai implikasi langsung terhadap perbankan. Simulasi OCE BRI menunjukkan kenaikan inflasi sebesar satu poin persentase dapat menekan pertumbuhan kredit total sekitar 3,08 poin persentase.
Dampak terbesar terjadi pada kredit mikro yang berpotensi tertekan 9,12 poin persentase, disusul kredit kecil 5,22 poin.
Dalam horizon 12 bulan, kenaikan inflasi satu poin persentase juga diperkirakan meningkatkan NPL mikro sekitar 0,83 poin persentase, lebih besar dibandingkan kredit kecil 0,45 poin, total kredit 0,38 poin, konsumsi 0,22 poin, dan kredit menengah 0,16 poin.
Artinya, inflasi dapat menimbulkan pukulan ganda: memperlambat kredit sekaligus meningkatkan risiko gagal bayar, terutama pada kelompok usaha yang paling dekat dengan masyarakat berpendapatan rendah.
Likuiditas Masuk Zona Sangat Ketat
Tekanan likuiditas bahkan sudah terlihat pada indikator peringatan dini OCE BRI. Indeks Early Warning System (EWS) likuiditas pasar keuangan mencapai 2,18 pada 17 Juli 2026, tertinggi sepanjang periode pengamatan dan masuk kategori sangat ketat.
Pengetatan tersebut antara lain dipengaruhi operasi moneter BI yang kontraktif, defisit perdagangan, serta arus keluar portofolio asing.
Kebijakan pro-stability BI memang diperlukan untuk menjaga rupiah, tetapi mempunyai konsekuensi berupa naiknya yield, meningkatnya biaya dana dan mengetatnya likuiditas perbankan.
Dana SAL Bisa Menambah Pertumbuhan
Dalam kondisi tersebut, penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan dinilai dapat menjadi bantalan likuiditas.
Simulasi OCE BRI menunjukkan setiap Rp100 triliun dana SAL yang ditempatkan pada perbankan berpotensi menambah pertumbuhan kredit sekitar 0,74 poin persentase, pertumbuhan ekonomi 0,09 poin persentase, serta menciptakan sekitar 286.000 tambahan lapangan pekerjaan.
Penempatan SAL Rp281 triliun diperkirakan telah meningkatkan pertumbuhan DPK sekitar 3,1 poin persentase dan menurunkan LDR dari sekitar 89,07% menjadi 86,63%.
Namun, OCE BRI mengingatkan SAL hanyalah buffer, bukan sumber pendanaan struktural karena dana pemerintah dapat ditarik kembali sesuai kebutuhan fiskal. Perbankan tetap harus memperkuat dana murah atau CASA.
Ekonomi Dunia Melambat
Semua persoalan domestik tersebut berlangsung ketika lingkungan global tidak terlalu mendukung. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 2,9%. Inflasi global diproyeksikan mencapai sekitar 4,3%, sementara suku bunga Amerika Serikat diperkirakan tetap tinggi sekitar 4%.
Risiko geopolitik memang telah mereda dibandingkan puncaknya, tetapi masih berada di atas rata-rata sebelum perang. Tekanan biaya logistik, gangguan rantai pasok, harga komoditas, dan kemungkinan kebijakan tarif baru Amerika Serikat tetap menjadi sumber ketidakpastian.
Harga komoditas mulai terkoreksi, terutama minyak Brent dan gas alam, tetapi OCE BRI menilai harga batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO masih relatif mendukung perekonomian Indonesia.
Tantangan: Membuat Pertumbuhan Kembali Merata
Di tengah berbagai tekanan tersebut, OCE BRI masih melihat sejumlah penopang ekonomi nasional. Selain harga komoditas, program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), sekolah rakyat, serta stimulus fiskal dapat menopang permintaan.
Namun, persoalan fundamentalnya adalah bagaimana memastikan pertumbuhan tidak hanya bergerak kuat di lapisan atas.
Data konsumsi, tabungan, daya beli hingga kredit menunjukkan cerita yang relatif konsisten: masyarakat berpendapatan tinggi mempunyai bantalan likuiditas lebih besar, tetap mampu membeli barang non-esensial, menambah simpanan, dan mempertahankan permintaan kredit. Sebaliknya, kelompok menengah-bawah menghadapi kombinasi tekanan harga, pekerjaan informal berupah rendah, tingginya suku bunga, dan pelemahan daya beli.
Karena konsumsi rumah tangga merupakan motor terbesar perekonomian Indonesia, ketergantungan pertumbuhan pada kelas atas mempunyai batas. Kelompok berpendapatan tinggi mempunyai kemampuan belanja besar, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan pasar massal.
Karena itu, pekerjaan rumah terbesar bukan sekadar menjaga angka pertumbuhan tetap sekitar 5%, melainkan memperluas sumber pertumbuhan tersebut. Ekonomi yang ditopang kelas atas dapat tetap tumbuh, tetapi ekonomi yang hendak tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan membutuhkan kelas menengah yang kuat serta kelas bawah yang semakin sejahtera. Tanpa pemulihan daya beli kedua kelompok itu, pertumbuhan bisa terlihat kokoh di permukaan, tetapi semakin sempit fondasinya.

