Pertumbuhan Ekonomi Kelas Bawah, Menengah, dan Atas Sama-Sama Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tidak hanya melambat secara agregat, tetapi juga terjadi pada seluruh kelompok ekonomi masyarakat, baik kelas kelas bawah, kelas menengah, maupun kelas atas. Kendati kelas atas masih menjadi penopang utama konsumsi dan tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, lajunya tetap menurun dibandingkan kuartal sebelumnya. Meski laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 5%, tetapi daya dorongnya semakin tidak merata.
Hal tersebut terungkap dalam laporan Regular Economic Update: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q2-2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta pada Kamis (13/08/2026). Analisis BRI menggunakan antara lain data Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), CEIC, Bloomberg, serta estimasi internal Office of Chief Economist BRI.
Berdasarkan estimasi BRI, pertumbuhan ekonomi kelas bawah turun dari sekitar 3,6% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal I-2026 menjadi 3,4% pada kuartal II-2026. Pertumbuhan kelas menengah juga melemah dari sekitar 3,5% menjadi 3,3% yoy. Bahkan kelas atas, yang selama ini menjadi motor utama konsumsi, mengalami perlambatan dari sekitar 8,0% menjadi 7,6% yoy.
Dengan demikian, persoalan ekonomi pada kuartal II-2026 bukan sekadar kesenjangan pertumbuhan antarkelas. Ketiga kelompok sama-sama kehilangan momentum. Perbedaannya terletak pada tingkat pertumbuhannya. Kelas atas masih melaju dua kali lebih cepat dibandingkan kelas bawah dan kelas menengah, sementara dua kelompok terakhir tumbuh hanya sedikit di atas 3%.
Baca Juga
Laju Pertumbuhan Ekonomi Global Semester II-2026 Diprediksi Menurun
Perlambatan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data BPS yang dianalisis BRI, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29% yoy pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan 5,61% pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga, yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB, juga melambat menjadi 5,06% dari 5,52% yoy pada kuartal sebelumnya.
Kelas Bawah: Tabungan Hampir Tidak Bergerak
Tekanan paling jelas terlihat pada kelompok bawah. Pertumbuhan ekonomi kelompok ini yang hanya 3,4% yoy pada kuartal II-2026 berada jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional 5,29%. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan pola pertumbuhan kelas bawah pada 2024–2025 yang berada di kisaran 4,5%–4,7%.
Indikator tabungan memperkuat gambaran mengenai terbatasnya bantalan keuangan masyarakat lapisan bawah. Menggunakan data LPS dan CEIC, BRI mencatat rata-rata saldo tabungan kelompok dengan simpanan sampai Rp100 juta stagnan di sekitar Rp1,7 juta per rekening. Pertumbuhan saldo memang mencapai sekitar 5,2% yoy, tetapi nilai rata-rata tabungan yang rendah menunjukkan kemampuan masyarakat kelompok ini untuk menyisihkan pendapatan masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut membuat kelas bawah lebih rentan terhadap kenaikan harga pangan, energi, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya. Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, ruang untuk meningkatkan konsumsi diskresioner ataupun membentuk tabungan menjadi sempit.
Gejala itu juga terlihat dari pola konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan belanja makanan dan minuman selain restoran melambat menjadi 4,25% yoy pada kuartal II-2026 dari 4,54% pada kuartal I-2026. Pengeluaran untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan turun lebih tajam dari 5,99% menjadi 3,52%.
BRI menilai pelemahan pada kelompok barang yang relatif sensitif terhadap daya beli tersebut menunjukkan bahwa dorongan konsumsi kelompok menengah-bawah sedang melemah.
Kelas Menengah: Tumbuh Paling Rendah
Kondisi kelas menengah bahkan menjadi salah satu perhatian utama. Estimasi BRI menunjukkan pertumbuhan ekonomi kelompok ini turun dari sekitar 3,5% pada kuartal I-2026 menjadi hanya 3,3% yoy pada kuartal II-2026, paling rendah dibandingkan tiga kelompok ekonomi.
Angka tersebut juga jauh di bawah pertumbuhan kelas menengah pada periode sebelum pelemahan terakhir. Pada 2024, pertumbuhan kelompok menengah diperkirakan sekitar 4,9%, kemudian turun menjadi sekitar 4,5% pada 2025, sebelum melandai ke kisaran 3% pada 2026. Dengan kata lain, perlambatan kelas menengah bukan semata-mata fenomena satu kuartal, melainkan memperlihatkan penurunan momentum yang berlangsung lebih panjang.
Likuiditas kelas menengah-bawah juga belum menunjukkan perbaikan berarti. Untuk rekening dengan saldo Rp100 juta hingga Rp500 juta, rata-rata tabungan menurut data LPS yang dikutip BRI tertahan sekitar Rp213,8 juta per rekening. BRI menilai terbatasnya akumulasi tabungan mengindikasikan ruang konsumsi kelompok tersebut masih terbatas.
Sementara itu, kelompok menengah-atas dengan simpanan Rp500 juta hingga Rp2 miliar menghadapi pola berbeda. Rata-rata saldo per rekening berada di sekitar Rp930,55 juta, tetapi pertumbuhan saldo melambat menjadi sekitar 2,5% yoy. Penurunan saldo ini, menurut analisis BRI, dapat mencerminkan dua kemungkinan: dana digunakan untuk meningkatkan konsumsi atau dipindahkan ke instrumen investasi lain.
Tekanan terhadap kelas menengah penting bagi perekonomian karena kelompok ini merupakan basis besar konsumsi massal, kredit konsumer, perumahan, kendaraan, pendidikan, hingga pembiayaan UMKM. Karena itu, perlambatan kelas menengah dapat mempunyai efek berantai lebih luas terhadap permintaan domestik.
Kelas Atas: Ikut Melambat
Berbeda dengan dua kelompok lainnya, kelas atas tetap menunjukkan pertumbuhan tinggi. Namun, data BRI memperlihatkan bahwa kelompok ini pun tidak kebal terhadap perlambatan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi kelas atas diperkirakan mencapai 7,6% yoy pada kuartal II-2026, turun dari sekitar 8,0% pada kuartal I-2026. Kendati melambat, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kelas bawah 3,4% dan kelas menengah 3,3%.
Pertumbuhan kelas atas bahkan masih lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sekitar 6,5%. Artinya, apabila dibandingkan secara tahunan, kondisi ekonomi kelas atas tetap menguat. Tetapi dibandingkan kuartal sebelumnya, momentumnya mulai kehilangan kecepatan.
Ketahanan kelas atas juga terlihat jelas dari simpanannya. Untuk rekening dengan saldo di atas Rp2 miliar, rata-rata saldo tercatat sekitar Rp17,48 miliar per rekening. Nilai saldo kelompok tersebut masih tumbuh sekitar 13,7% yoy, meskipun mulai melambat.
Besarnya bantalan likuiditas ini membuat kemampuan konsumsi kelas atas jauh lebih kuat. Karena itulah, konsumsi barang dan jasa yang biasanya memiliki elastisitas pendapatan tinggi masih mencatat pertumbuhan relatif kuat.
Pengeluaran rumah tangga untuk transportasi dan komunikasi misalnya masih tumbuh 5,71% yoy pada kuartal II-2026. Konsumsi restoran dan hotel tumbuh 6,47%, sedangkan kelompok pengeluaran lainnya meningkat 5,66%. BRI, dengan merujuk antara lain pada literatur Banerjee & Duflo serta Asian Development Bank, menggolongkan kelompok pengeluaran tersebut sebagai konsumsi yang cenderung lebih banyak dilakukan masyarakat kelas menengah-atas.
Konsumsi Melambat dan Makin Tidak Merata
Gambaran antarkelas tersebut menjelaskan mengapa konsumsi rumah tangga secara nasional masih tumbuh cukup tinggi tetapi kualitas pertumbuhannya belum merata. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% yoy pada kuartal II-2026, tetapi turun dari 5,52% pada kuartal I-2026.
Sebagian perlambatan memang disebabkan faktor teknis berupa normalisasi konsumsi setelah periode Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada kuartal pertama. Namun, perbedaan pertumbuhan antarkelompok barang menunjukkan faktor daya beli juga berperan.
Pengeluaran untuk kebutuhan yang dekat dengan konsumsi masyarakat luas cenderung melambat, sedangkan konsumsi kategori diskresioner yang lebih banyak dinikmati kelas menengah-atas masih bertahan relatif tinggi.
Karena itu, BRI menyimpulkan pertumbuhan ekonomi domestik masih ditopang kelas atas, sementara konsumsi kelompok yang lebih sensitif terhadap tekanan daya beli perlu terus dicermati.
Ditopang Belanja Pemerintah
Struktur pertumbuhan kuartal II juga menunjukkan pemerintah memainkan peran besar. Konsumsi pemerintah melonjak 15,97% yoy, meski melambat dari 21,81% pada kuartal I-2026.
BRI menghitung bahwa tanpa konsumsi pemerintah, ekonomi Indonesia pada kuartal II hanya tumbuh sekitar 4,52%, dibandingkan pertumbuhan PDB keseluruhan sebesar 5,29%. Terdapat selisih sekitar 0,77 poin persentase, yang menunjukkan momentum pertumbuhan dari sektor non-pemerintah masih relatif terbatas.
Investasi atau pembentukan modal tetap bruto memang memberikan dukungan cukup kuat dengan pertumbuhan 6,9% yoy. Tetapi kualitasnya juga belum sepenuhnya merata. Investasi bangunan tumbuh 6,6% dan kendaraan melonjak sekitar 26%, sementara investasi mesin dan peralatan hanya tumbuh 1,3%, turun tajam dari 7,3% pada kuartal sebelumnya.
Kinerja eksternal juga menjadi penghambat. Ekspor tumbuh 4,13% yoy, tetapi impor melesat lebih tinggi, yakni 8,82%, sehingga net ekspor masih terkontraksi. Neraca perdagangan bahkan berbalik dari surplus US$5,55 miliar pada kuartal I menjadi defisit US$1,97 miliar pada kuartal II-2026, terutama akibat defisit migas yang melebar hingga US$10,69 miliar.
Pelemahan Meluas ke Dunia Usaha
Perlambatan daya beli tidak berdiri sendiri. Laporan BRI menunjukkan penguatan aktivitas usaha juga semakin selektif. Dari 17 sektor ekonomi, sembilan berada pada kuadran kontraktif berdasarkan perubahan pertumbuhan dan pangsanya terhadap PDB.
Industri pengolahan, yang merupakan sektor terbesar dengan kontribusi sekitar 18,5% terhadap PDB, tumbuh 4,5% yoy, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertanian juga melambat menjadi 3,8% dari 5,0%, sementara pertambangan masih terkontraksi 1,6%.
Baca Juga
LPS Catat Tabungan Orang Kaya di Atas Rp 5 Miliar Tumbuh 16,24%, Ini Penyebabnya
Di sektor manufaktur, akselerasi hanya terjadi pada dua dari 16 subsektor yang dianalisis. Industri berbasis konsumsi seperti makanan dan minuman serta sejumlah industri bahan baku masih mengalami pelemahan momentum. Kondisi tersebut konsisten dengan gambaran bahwa konsumsi mass market belum sepenuhnya pulih.
Tekanan yang lebih besar juga datang dari luar negeri. BRI mencatat kepercayaan konsumen global melemah dan mayoritas mitra dagang utama Indonesia mengalami perlambatan pada kuartal II. Eskalasi perang AS-Iran serta terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz turut meningkatkan harga energi dan inflasi global, yang pada akhirnya berpotensi menekan daya beli masyarakat Indonesia melalui harga impor.
Alarm Kelas Bawah dan Menengah
Data BRI akhirnya memperlihatkan satu pesan penting. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih di atas 5%, tetapi daya dorongnya semakin tidak merata.
Pada kuartal II-2026, kelas bawah tumbuh 3,4%, kelas menengah hanya 3,3%, dan kelas atas 7,6%. Ketiganya lebih rendah dibandingkan kuartal pertama yang masing-masing sekitar 3,6%, 3,5%, dan 8,0%.
Kelas atas masih memiliki bantalan tabungan besar sehingga mampu mempertahankan konsumsi. Sebaliknya, kelas bawah memiliki rata-rata saldo tabungan hanya sekitar Rp1,7 juta per rekening, sementara likuiditas kelompok menengah-bawah juga relatif stagnan.
Dengan demikian, isu utama ekonomi Indonesia bukan semata-mata apakah PDB mampu tumbuh di atas 5%, melainkan siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut dan seberapa luas mesin pertumbuhan bekerja. Ketika kelas bawah dan menengah hanya berkembang sekitar 3%, sementara perekonomian semakin bergantung pada konsumsi kelas atas dan belanja pemerintah, keberlanjutan pertumbuhan membutuhkan penguatan daya beli masyarakat luas, penciptaan lapangan kerja produktif, serta investasi swasta yang mampu meningkatkan pendapatan kelompok menengah dan bawah.

