Rupiah Kembali Loyo Menembus Rp 18.000 per Dolar AS, Terkait Mundurnya Perry?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika. Sepeninggal Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari Bank Indonesia (BI) pada Minggu (26/7/2026), rupiah bergerak melemah sebesar 0,42% terhadap dolar AS menjadi Rp 18.085 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB.
Rupiah menjadi mata uang yang mengalami depresiasi paling dalam di Asia. Di dunia, pelemahan terdalam mata uang terhadap dolar AS terjadi oleh lira Brasil yang melemah 0,67%. Setelah lira, Mata Uang Garuda.
Tanpa menyebut potensi pelemahan akibat mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa indeks dolar AS (DXY) mulai terhenti kecenderungan pelemahannya di awal perdagangan dan bergerak relatif tidak berubah di kisaran 101,4, bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan. Hal ini seiring dengan perkembangan di Timur Tengah yang terus mendominasi sentimen pasar.
Kondisi ini terjadi setelah AS menghentikan serangan terhadap Iran yang telah berlangsung hampir dua pekan pada Jumat malam. Sebagai tanggapan, Teheran menghentikan operasi militer balasannya dan mengadakan pembicaraan dengan Oman untuk memastikan keamanan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Pjs Gubernur BI Respons Gejolak Saham dan Rupiah setelah Perry Warjiyo Mundur
Perkembangan ini memicu penurunan harga minyak, sehingga meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut dan potensi kembali meningkatnya tekanan inflasi. Akibatnya, investor mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed.
Bank sentral AS (The Fed) secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate pada level saat ini. Meski demikian, pasar masih memperkirakan sekitar 33% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang. Ke depan, kenaikan suku bunga pada September masih menjadi skenario utama, dengan pelaku pasar memperhitungkan peluang hampir 80% bahwa langkah tersebut akan terjadi.
Pesanan baru barang tahan lama buatan AS meningkat 0,3% secara bulanan menjadi US$ 334,77 miliar pada Juni 2026, pulih setelah mengalami penurunan yang direvisi sebesar 4% pada Mei. Namun, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan 1,6%.
Pesanan barang modal naik 1,1%, sementara peningkatan juga terjadi pada pesanan logam dasar (1,1%), komputer dan produk elektronik (3,1%), serta peralatan listrik, peralatan rumah tangga, dan komponennya (0,9%).
