Rupiah Menembus Rp 18.116 per Dolar AS, Lonjakan Harga Minyak Mentah Jadi Sebab
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/7/2026). Rupiah melemah 0,28% menjadi Rp 18.116 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Tak hanya rupiah, pelemahan mata uang juga terjadi kepada sejumlah mata uang negara-negara di kawasan Asia. Yen Jepang melemah 0,23%, yuan China melemah 0,04%, ringgit Malaysia melemah 0,13%, dolar Singapura melemah 0,17%, dan baht Tailan melemah 0,21%.
Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan indeks dolar AS atau DXY relatif tidak berubah di kisaran 100,9 dan juga berada di jalur untuk menutup pekan dengan pergerakan yang nyaris datar. Kondisi ini terjadi seiring pelaku pasar terus mencermati situasi di Timur Tengah yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian.
Baca Juga
Rupiah Menguat 0,35% tetapi Masih di Rp 18.000-an, Investor Cermati Konflik Timur Tengah
Sementara itu, harga minyak melemah setelah sempat melonjak pada awal pekan, menyusul laporan bahwa AS dan Iran akan melanjutkan perundingan damai. Namun, kembali terjadinya saling serang antara kedua negara memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin meningkat.
“Sementara keberlangsungan gencatan senjata sebelumnya masih belum pasti,” kata Andry.
Memanasnya kembali konflik tersebut juga menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap gelombang baru tekanan inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin perlu kembali memperketat kebijakan moneternya. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sebesar 62% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September, naik dari 58% sepekan lalu, namun turun dari sekitar 70% pada awal pekan ini.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp18.075 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar
Ketua The Fed Kevin Warsh diperkirakan akan menjelaskan lebih lanjut potensi reformasi di tubuh The Fed dalam kesaksiannya di hadapan kongres, setelah pembentukan sejumlah gugus tugas.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengatakan bahwa dari berbagai faktor yang mendorong inflasi di AS, dia paling mengkhawatirkan lonjakan permintaan yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, pekan ini akan menjadi periode yang padat bagi pasar global dengan dimulainya musim laporan kinerja keuangan, yang akan didominasi oleh bank-bank besar Amerika Serikat, serta perusahaan seperti Netflix, Johnson & Johnson (J&J), dan UnitedHealth.
Selain laporan keuangan dan sinyal kebijakan moneter, perhatian pasar juga akan tertuju pada data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat periode Juni untuk melihat apakah penurunan harga minyak telah diteruskan kepada konsumen. Agenda ekonomi lainnya meliputi indeks kepercayaan konsumen Universitas Michigan (UMich), data persyaratan perdagangan (trade terms), serta sektor perumahan.
Di Eropa, Inggris akan merilis data PDB Mei, sementara Zona Euro juga akan mengumumkan data produksi industri. Dari China, berbagai data penting akan dirilis, termasuk pertumbuhan PDB kuartal II, neraca perdagangan, agregat moneter, produksi industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, serta harga perumahan.
Jepang akan merilis data pesanan mesin. Di kawasan Asia, laporan keuangan TSMC diperkirakan menjadi salah satu pemicu utama volatilitas saham-saham produsen semikonduktor global.
