Rupiah Kembali di Bawah Rp18.000, IHSG Bangkit 10% dalam Sebulan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan berat sepanjang akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026. Dalam sebulan terakhir, nilai tukar rupiah menguat sekitar 1,2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kembali bergerak di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak hampir 10% dari titik terendahnya pada akhir Juni. Perbaikan tersebut mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia, meski risiko global masih membayangi.
Pada perdagangan Jumat (24/07/2026), rupiah berada di kisaran Rp17.970,35 per dolar AS. Dibandingkan posisi terlemah Rp18.099 per dolar AS pada 14 Juli 2026, rupiah menguat sekitar Rp129 atau sekitar 0,7%. Jika dibandingkan dengan level terendah yang sempat terjadi pada akhir Juni, penguatan mencapai sekitar 1,2%, menandakan tekanan terhadap nilai tukar mulai mereda.
Pergerakan rupiah sepanjang sebulan terakhir memang masih diwarnai volatilitas yang tinggi. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di kisaran Rp17.944 per dolar AS pada 17 Juli, melemah menjadi Rp17.976 pada 20 Juli, kemudian menguat ke Rp17.909 pada 21–22 Juli dan Rp17.915 pada 23 Juli. Pada 24 Juli, rupiah diperdagangkan sekitar Rp17.970, sehingga tetap bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Baca Juga
IHSG Anjlok Hari Ini Dipicu Sentimen Global, Analis Prediksi Peluang Koreksi ke Area 5.880-6.000
Perbaikan serupa terjadi di pasar saham. Berdasarkan IDX Daily Statistics Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG memang ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88% ke level 6.196,43 pada perdagangan Jumat (24/07/2026). Namun, dibandingkan posisi sekitar 5.643–5.646 pada 24 Juni 2026, indeks masih mencatat kenaikan hampir 560 poin atau sekitar 10% dalam satu bulan terakhir.
Momentum penguatan IHSG mulai terlihat sejak pertengahan Juli. Indeks naik dari 6.041,97 pada 15 Juli menjadi 6.108,21 pada 16 Juli, kemudian menguat lagi ke 6.175,54 pada 17 Juli, naik ke 6.231,78 pada 20 Juli, dan mencapai 6.340,02 pada 21 Juli sebelum bergerak relatif stabil di kisaran 6.334 pada 22 Juli dan 6.315 pada 23 Juli. Koreksi pada 24 Juli hanya mengurangi sebagian keuntungan jangka pendek dan belum mengubah tren pemulihan yang telah berlangsung selama sebulan.
Meski demikian, pemulihan tersebut belum sepenuhnya menghapus tekanan yang terjadi sejak awal tahun. Hingga 24 Juli 2026, IHSG masih terkoreksi 28,34% secara year-to-date (YTD) sehingga menjadi bursa saham dengan kinerja terburuk di ASEAN dan berada di peringkat ke-35 dari 36 bursa utama dunia yang dipantau BEI. Di sisi lain, rupiah juga masih terdepresiasi sekitar 7,4% dibandingkan posisi awal Januari 2026.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga tercermin dari masih derasnya arus keluar modal asing. Pada perdagangan Jumat, investor asing kembali mencatat net sell Rp1,36 triliun, sehingga akumulasi penjualan bersih sepanjang tahun mencapai Rp79,09 triliun atau sekitar US$4,4 miliar. Arus keluar modal tersebut terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan dalam IHSG, sekaligus mempersempit pasokan devisa di pasar domestik sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski pasar masih dibayangi capital outflow, aktivitas perdagangan tetap tinggi. Nilai transaksi saham pada Jumat mencapai Rp17,70 triliun dengan volume 35,97 miliar saham dan frekuensi 2,23 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp10.870,6 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar berbasis free float adjusted tercatat Rp2.696,2 triliun. Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) 12,64 kali dan price to book value (PBV) 1,65 kali, yang menunjukkan valuasi emiten Indonesia semakin menarik dibandingkan banyak pasar berkembang lainnya.
Pemulihan pasar keuangan didorong oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) sejak Mei 2026 telah menaikkan BI rate secara kumulatif 100 basis poin menjadi 5,75%. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22 Juli 2026, BI mempertahankan suku bunga tersebut sekaligus memperkenalkan berbagai kebijakan pendalaman pasar keuangan, termasuk penurunan biaya lindung nilai (hedging) valuta asing, penguatan instrumen pasar uang, dan berbagai insentif untuk menarik kembali aliran modal asing.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa kombinasi mempertahankan suku bunga dan memperkuat instrumen moneter dinilai lebih efektif menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Setelah pengumuman kebijakan tersebut, rupiah bahkan sempat menguat hingga sekitar Rp17.875 per dolar AS, sebelum bergerak stabil di kisaran Rp17.900–Rp17.970.
Sentimen positif juga diperkuat oleh dipertahankannya peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, inflasi yang tetap terkendali, disiplin fiskal pemerintah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih lebih baik dibandingkan banyak negara berkembang. Kondisi tersebut mendorong investor kembali melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan, energi, dan komoditas.
Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta dinamika arus modal global masih berpotensi memicu volatilitas baik di pasar valuta asing maupun pasar saham domestik.
Perkembangan selama sebulan terakhir menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia mulai memasuki fase pemulihan setelah mengalami tekanan cukup berat pada semester pertama 2026. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar rupiah tetap stabil di bawah Rp18.000 per dolar AS, mengembalikan arus modal asing ke pasar domestik, serta mempertahankan momentum kenaikan IHSG agar bergerak lebih mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih relatif kuat.
Di Bawah Level Akhir 2025
Meski menguat dalam sebulan terakhir, pasar keuangan Indonesia masih berada di bawah tekanan sepanjang 2026. Terhitung sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Jumat (24/07/2026), rupiah terdepresiasi sekitar 7,4% terhadap dolar AS, sedang IHSG terkoreksi 28,34%. Pelemahan dua indikator utama tersebut terjadi di tengah berlanjutnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah melemah dari sekitar Rp16.725 per dolar AS pada awal Januari menjadi Rp17.973 per dolar AS pada 24 Juli 2026. Di saat yang sama, berdasarkan IDX Daily Statistics, IHSG ditutup di level 6.196,430, turun 118,88 poin atau 1,88% dibandingkan hari sebelumnya. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada kisaran 6.159,145 hingga 6.268,534. Dengan koreksi 28,34% secara year-to-date (YTD), IHSG menjadi bursa saham dengan kinerja terburuk di ASEAN dan berada di peringkat ke-35 dari 36 bursa utama dunia yang dibandingkan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan pada rupiah dan IHSG berjalan seiring dengan derasnya aksi jual investor asing. Pada perdagangan Jumat, investor asing kembali mencatatkan net sell Rp1,36 triliun, sehingga akumulasi penjualan bersih sepanjang tahun mencapai Rp79,09 triliun atau sekitar US$4,4 miliar. Arus keluar modal tersebut tidak hanya menekan harga saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG, tetapi juga mempersempit pasokan devisa di pasar domestik sehingga turut mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Baca Juga
Transaksi Rupiah-Yuan Melonjak 300%, Anindya Nilai Kerja Sama RI-China Makin Kuat
Meski pasar terkoreksi tajam, aktivitas perdagangan masih relatif tinggi. Volume transaksi saham mencapai 35,97 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,70 triliun dan frekuensi 2,23 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat Rp10.870 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar berdasarkan free float adjusted mencapai Rp2.696 triliun. Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) 12,64 kali dan price to book value (PBV) 1,65 kali, yang menunjukkan valuasi emiten Indonesia semakin murah dibandingkan banyak pasar berkembang lainnya.
Emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar masih ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp766 triliun, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp475 triliun, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) Rp445 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp444 triliun, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp399 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp382 triliun, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) Rp315 triliun, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp293 triliun, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp261 triliun, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp202 triliun.
Tekanan juga terjadi hampir di seluruh sektor. Pada perdagangan Jumat, Consumer Cyclicals turun 3,04%, Basic Materials melemah 3,02%, Energy turun 2,82%, Transportation & Logistics turun 2,70%, dan Financials terkoreksi 2,00%. Secara kumulatif sejak awal tahun, sektor Energy menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 32,64%, diikuti Infrastructures 32,26%, Healthcare 31,68%, dan Properties & Real Estate 31,05%. Hampir seluruh indeks utama BEI juga masih berada di zona merah, antara lain LQ45 turun 27,38%, IDX80 30,20%, KOMPAS100 32,04%, ISSI 30,63%, dan Jakarta Islamic Index (JII) merosot 35,71% sejak awal tahun.
Dibandingkan negara-negara lain, tekanan di pasar Indonesia terlihat lebih dalam. Saat IHSG terkoreksi 28,34%, indeks saham Thailand justru menguat 30,54%, Singapura naik 20,28%, Filipina bertambah 3,77%, dan Malaysia menguat 1,24%. Di kawasan Asia Pasifik, Korea Selatan melonjak 58,76%, Taiwan naik 50,72%, dan Jepang menguat 28,35%. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar saham Indonesia lebih dipengaruhi faktor domestik, terutama derasnya arus keluar modal asing dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia telah menaikkan BI rate secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75%, disertai kebijakan pendalaman pasar keuangan dan berbagai insentif guna menarik kembali aliran modal asing. Pelaku pasar berharap kombinasi kebijakan moneter, stabilitas fiskal, serta perbaikan sentimen global mampu menghentikan tekanan terhadap rupiah dan pasar saham, sehingga kepercayaan investor dapat pulih pada paruh kedua 2026.
