Indef: ‘Rating’ S&P Jadi Modal Indonesia Tingkatkan Kepercayaan Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) merespons positif penilaian S&P Global Ratings terhadap prospek ekonomi Indonesia. Mereka menilai, afirmasi internasional ini bisa meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas pasar.
“Afirmasi ini membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menarik likuiditas internasional,” ungkap Ekonom Indef Esther Sri Astuti dalam keterangan yang diterima pada Rabu (22/7/2026).
Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings telah mengumumkan peringkat sovereign Indonesia di level BBB atau investment grade untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek dengan outlook stabil.
Laporan terbaru S&P juga secara eksplisit menyoroti langkah pemerintah mensentralisasi pengelolaan sektor mineral dan sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Mereka menjelaskan pandangan terhadap upaya pemerintah menutup kebocoran penerimaan negara seperti under-invoicing dan transfer pricing, guna mendorong pertumbuhan pendapatan serta penerimaan ekspor jangka panjang.
Esther mengatakan, rating BBB pada Indonesia bisa menjadi pintu masuk bagi investor institusional dalam menentukan alokasi investasinya, terutama yang selama ini terikat pada batasan peringkat kredit.
Ia juga menambahkan, keputusan lembaga pemeringkat seperti S&P, Fitch, dan Moody's untuk mempertahankan peringkat investment grade mencerminkan penilaian terhadap fundamental makroekonomi yang solid, serta kredibilitas kebijakan suatu negara.
Baca Juga
“Dalam konteks Indonesia, afirmasi S&P ini dapat menjadi penyangga sentimen ketika Rupiah dan pasar keuangan menghadapi tekanan sekaligus membantu menekan volatilitas mata uang seperti Rupiah di pasar valas,” sambungnya.
Lebih lanjut Esther mengatakan, negara atau perusahaan dengan rating BBB memiliki peluang menerbitkan obligasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rasional dan menarik bagi investor institusi besar.
Menurutnya, biaya dana yang lebih rendah ini dapat memperluas ruang pembiayaan, baik untuk pemerintah maupun korporasi. Meski demikian, kata Esther, manfaat tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar dan persepsi investor terhadap risiko.
Secara terpisah, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan, apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional bukanlah tujuan akhir.
Ia mengatakan, penilaian positif dari S&P ini harus dijadikan pijakan untuk memperkuat kinerja institusi, meningkatkan tata kelola, serta memastikan pengelolaan investasi negara dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.
