Pandu Sjahrir: Danantara Ubah Kekhawatiran Jadi Kepercayaan, Beri Efek Positif di Pasar Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Persepsi publik terhadap Danantara telah mengalami transformasi signifikan dalam waktu singkat. Jika sebelumnya sempat muncul kekhawatiran yang dikenal dengan istilah Danantara Fear, kini kehadiran Danantara justru mulai memberikan dampak positif terhadap pergerakan saham-saham BUMN di pasar modal, hingga melahirkan istilah baru: Danantara Effect.
“Kalau dulu dibilang adalah 'Danantara Fear', sekarang dibilangnya adalah 'Danantara Effect'. So it’s been a good momentum so far,” ujar Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir dalam acara Chief Editors Gathering bersama para pemimpin media massa di Jakarta pada Jumat (25/7/2025).
Dalam kesempatan tersebut ia juga menjelaskan bahwa saham-saham BUMN yang kerap dikaitkan dengan Danantara justru mampu mengungguli indeks pasar dalam beberapa bulan terakhir.
Berikutnya ia menyoroti besarnya respons pasar terhadap Danantara sejak awal kemunculannya. Ia mengingat kembali pertemuan perdananya dengan beberapa pemimpin redaksi media massa pada November tahun lalu di sebuah ruangan kecil. “Kemudian Februari, pasar masih di level 4.700-4.800. Hari ini sudah 7.300,” ungkapnya, menggambarkan optimisme yang kini mulai berkembang.
Namun, Pandu mengakui bahwa tantangan masih ada, terutama dalam hal penambahan likuiditas di pasar modal. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan India yang kini menjadi salah satu indeks paling likuid di dunia, dengan transaksi harian mencapai US$ 18 miliar. “Kita ini harus bisa mendalami itu,” ujarnya, sambil menyebutkan bahwa saat ini pihaknya tengah berdiskusi dengan OJK bersama penasihat internasional seperti Jeffrey Sachs dan F. Chapman Taylor untuk mendorong kemudahan IPO di Indonesia.
Baca Juga
Danantara Siap Terima 'Return' Lebih Rendah, Tapi Ini Syaratnya...
Lebih jauh, Pandu mengungkapkan kekuatan utama Danantara ada pada kepercayaan dan dukungan dari mitra global. Dalam lima bulan sejak berdiri, Danantara telah mengamankan komitmen investasi lebih dari US$ 10 miliar dari berbagai institusi keuangan besar dunia. “Kita sudah kerja sama dengan Qatar, JBIC dari Jepang, CIC dari Tiongkok, ACWA Power dari Saudi Arabia, dan juga dari Rusia dan UAE,” sebut Pandu.
Ia juga menekankan bahwa Danantara adalah kendaraan investasi dengan tujuan umum (general purpose), namun seluruh fokusnya diarahkan pada pembiayaan proyek-proyek strategis nasional. “Yang paling penting dari situ adalah kepercayaan, Pak. Karena ini kan perusahaan baru lima bulan,” tuturnya.
Sementara itu dalam kesempatan serupa CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi, Rosan Roeslani, turut menambahkan bahwa meningkatnya kepercayaan investor terhadap Danantara juga turut berdampak pada iklim investasi di Indonesia. “Begitu mereka mau masuk investasi ke Indonesia, sekarang mereka memilih masuk lewat kami. Saat mereka memerlukan local partner, local partnernya sekarang bisa kami,” kata Rosan.
Rosan juga menekankan pentingnya stabilitas dalam jangka panjang sebagai syarat utama yang dicari oleh investor global. “Pada saat mereka mau berinvestasi, just a long-term commitment. Dan yang mereka minta adalah business stability. Itu so far yang ada di kita, dan itu salah satu kekuatan kita,” pungkasnya.

