RDG Berakhir Besok, BI Berpotensi Menaikkan Bunga
Oleh Rully Arya Wisnubroto,
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dihadapkan dengan banyak tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pergerakan rupiah dalam jangka menengah masih amat sulit diprediksi, karena sangat dipengaruhi oleh isu global, bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri. Tren pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen higher-for-longer suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang kembali menyebabkan volatilitas dan ketidakpastian pasar global.
Sentimen global tersebut, yang juga berdampak kepada besarnya aliran modal asing keluar dari Indonesia, menyulitkan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Bila rupiah terus melemah, ada kemungkinan bank sentral Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari kedua atau terakhir, Rabu (24/4/2024).
Baca Juga
Rupiah Tergelincir dalam Pembukaan Perdagangan 23 April 2024
Bila sebelumnya BI Rate ada ruang untuk diturunkan, kini kemungkinan BI menaikkan dulu dari saat ini 6% menjadi 6,25% baru kemudian menurunkan lagi. Kenaikan suku bunga acuan ini untuk menarik investasi asing kembali masuk ke pasar Indonesia mengingat selisih dengan Fed Funds Rate hanya 50 bps (FFR saat ini 5,25-5,50%), di tengah gejolak akibat penundaan pemangkasan suku bunga The Fed lantaran inflasi Amerika Serikat masih tinggi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury Note) sudah nyaris 5% untuk tenor 2 tahun.
Hal yang sudah dikhawatirkan sebelumnya saat Israel memerangi Hamas --bahwa perang akan meluas-- akhirnya juga terjadi setelah Iran menyerang Israel sehingga mengeskalasi tensi geopolitik, meski kemudian Iran dan Israel tampaknya tidak ingin pecah perang lebih lanjut. Hingga Selasa (23/4/2024) pukul 15.12 WIB, yield UST 2 tahun berada di level 4,991% atau naik 0,015 poin persen.
Sentimen gejolak global ini mendorong penguatan dolar terhadap mata uang lain. Sementara, Indonesia sedang libur panjang Lebaran sekitar 1,5 minggu, sehingga Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi dan rupiah langsung melemah saat pasar valas di Indonesia kembali dibuka. Saat ini, kurs rupiah sudah berada di level Rp 16.200 lebih per USD.
Kredit Tetap Tumbuh Tinggi
Meski ada sejumlah tantangan, namun ekonomi Indonesia masih bagus. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 bahkan diperkirakan bisa mencapai 5,5% year on year lantaran penyelenggaraan pilpres dan pileg pada Februari. Selain itu, Maret memasuki Ramadan yang mendorong konsumsi tinggi dan tunjangan hari raya (THR) juga sudah dibagikan pada Maret 2024.
Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekonomi Indonesia triwulan IV-2023 terhadap triwulan IV-2022 tumbuh sebesar 5,04% (yoy).
Sektor perbankan juga masih berprospek menjanjikan. Dengan harga komoditas yang menguat, hal ini akan lebih menguntungkan karena Indonesia kuat di komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), sehingga akan mendorong kredit perbankan juga. Selain itu, penerimaan negara meningkat.
Optimisme sektor perbankan masih akan menjanjikan ini ditopang pertumbuhan kredit yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi. Pertumbuhannya masih akan sejalan dengan proyeksi BI, yang di kisaran 10-12% pada 2024.
Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga mulai membaik. Pada bulan Januari dan Februari 2024, DPK masing-masing tumbuh sebesar 5,8% year on year dan 5,7% yoy, setelah tiga bulan terakhir di tahun 2023 tumbuh di bawah 4% yoy.
Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) juga masih relatif terjaga di bawah 85%. Tingkat kredit tidak lancar (non- performing loan/NPL) juga masih rendah, dan ruang bagi peningkatan pertumbuhan kredit masih terbuka.
Kondisi tersebut merupakan hasil dari kebijakan makroprudensial yang pro-growth. Pertumbuhan kredit pada Januari 2024 tercatat cukup tinggi mencapai 11,8% yoy. Angka ini tertinggi pada hampir 5 tahun terakhir.
Sedangkan pertumbuhan kredit pada bulan Februari 2024 sedikit lebih rendah, tapi tergolong tetap tinggi sebesar 11,3% yoy. Sementara gross NPL pada periode yang sama tetap rendah, yaitu 2,35%.
Dengan kebijakan makroprudensial yang longgar dan disertai dengan likuiditas yang masih memadai, pertumbuhan kredit masih akan tetap kuat. Hal ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan sepanjang tahun 2024.
Baca Juga
Dana Asing Keluar Rp 22,3 Triliun dari Pasar Keuangan RI Sepekan, Yield SBN Nyaris 7%
Namun demikian, risiko yang ada harus dimitigasi ke depan, agar stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Perbankan sepertinya juga memang akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, mengingat kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak pandemi Covid-19 telah berakhir per 31 Maret 2024. Saat ini, Loan at Risk (LaR) perbankan masih cukup tinggi yaitu 11,56% per Februari 2024. ***

