BI Dianjurkan Tidak Buru-Buru Naikkan BI Rate dalam RDG Besok, Ini Alasannya!
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (17/01/2024) besok. BI dianjurkan tidak buru-buru memangkas suku bunga acuan, BI Rate, meski The Fed diprediksi mulai menurunkan Fed funds rate (FFR) pada kuartal I tahun ini.
“Pemotongan suku bunga acuan yang terlalu dini bukan langkah yang tepat diambil oleh BI karena berpotensi memberi tekanan pada rupiah,” kata ekonom makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Selasa (16/01/2024).
Baca Juga
Berdasarkan catatan investortrust.id, BI sudah tiga bulan mempertahankan suku bunga acuan, BI 7-days Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang kini kembali berganti nama menjadi BI Rate, di level 6%. BI secara bertahap menaikkan suku bunga acuan sejak Agustus 2022, dari 3,50% menjadi 3,75%. BI Rate terakhir kali dinaikkan sebesar 25 bps pada 19 Oktober 2023.
Sementara itu, The Fed menaikkan FFR secara agresif sejak Maret 2022 hingga Desember 2023 sebesar 525 bps, yaitu dari 0,25-0,50% menjadi 5,25-5,50%. Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir (Desember 2023), The Fed mempertahankan suku bunga acuannya.
Inflasi Terjaga Rendah
Teuku Riefky mengungkapkan, Indonesia memasuki 2024 dengan capaian positif di beberapa aspek, salah satunya inflasi yang rendah. Pada Desember 2023, inflasi mencapai 2,61% secara tahunan (year on year/yoy). “Inflasi cenderung terjaga selama 2023 di tengah tekanan harga pangan akibat El Nino,” ujar dia.
Selain itu, menurut Riefky, neraca perdagangan secara konsisten mencatatkan surplus saat harga komoditas menurun dan permintaan global melemah. Di sisi lain, ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas FFR pada kuartal I-2024 meningkat.
“Ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan FFR pada kuartal I-2024 mendorong berlanjutnya arus modal masuk ke Indonesia, walaupun melambat dalam beberapa minggu terakhir,” papar dia.
Baca Juga
Suku Bunga Capai Puncak, Harga Saham Properti Ini Siap-siap Bullish
Riefky menjelaskan, dengan rupiah yang sedikit melemah sejak awal tahun dan inflasi yang tidak menjadi isu saat ini, pemotongan suku bunga acuan yang terlalu dini bukan langkah yang tepat diambil oleh BI karena berpotensi memberi tekanan pada rupiah.
“BI perlu mengatur waktu penurunan tingkat suku bunga acuan dengan mengacu pada keputusan The Fed. Jadi, dalam RDG pertamanya setelah mengganti kembali nama BI7DRR menjadi BI Rate, BI perlu menahan suku bunga acuan di posisi 6,00% bulan ini,” tandas Riefky.

