Investor Dianjurkan Mencermati Saham-Saham Konsumsi
JAKARTA, investortrust.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) menganjurkan para investor mencermati saham-saham sektor konsumsi, di antaranya saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
“Kami mempertahankan peringkat netral saham-saham sektor konsumsi, didorong oleh sentimen perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 yang akan membuat konsumsi meningkat,” kata Equity Research Mirae Asset, Abyan H Yuntoharjo dalam risetnya, Senin (25/11/2024).
Menurut Abyan, Mirae Asset mempertahankan peringkat netral sektor konsumsi pada awal 2025 karena pertumbuhan upah terus tertinggal dari kenaikan biaya hidup. “Ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketahanan pengeluaran jangka panjang,” ujar dia.
Baca Juga
Pasar Saham Masuk Fase Waiting Game, Mandiri Sekuritas Prediksi IHSG Tahun Depan di Level 8.150
Saham ICBP, kata Abyan, direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 14.000. Sedangkan MYOR dan MIDI masing-masing direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.600 dan Rp 540.
Di sisi lain, investor disarankan hold untuk saham Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga Rp 8.100. “Adapun untuk saham PT Sumber Alfaria Tbk (AMRT), investor bisa ambil posisi buy dengan target harga Rp 3.500,” tutur Abyan.
Investor, menurut Abyan Yuntoharjo, juga bisa mengambil posisi trading buy pada saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dengan target harga Rp 6.000. Sedangkan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dianjurkan untuk hold dengan target harga Rp 1.700.
“Dari sisi kinerja keuangan, konsumsi pada kuartal III-2024 tumbuh cukup kuat, didorong oleh permintaan yang stabil, terutama di luar Jawa,” ucap dia.
Dia menambahkan, pemain kunci seperti ICBP, INDF, dan AMRT menghasilkan kinerja yang solid dengan memanfaatkan pertumbuhan volume yang lebih tinggi, penetapan harga strategis, dan disiplin biaya.
“ICBP dan INDF membuat skala operasi secara efisien, sedangkan AMRT dan MIDI mendapat manfaat dari ekspansi ke wilayah di luar Jawa, didukung oleh upah dan biaya operasional yang lebih rendah,” papar dia.
Baca Juga
Konsumsi Rumah Tangga Bantalan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III
Abyan mengakui, MYOR dan UNVR masih menghadapi sejumlah tantangan. MYOR bergulat dengan kenaikan biaya input dan tingkat pemanfaatan yang lebih rendah. Sementara itu, UNVR berjuang karena penurunan pendapatan yang disebabkan boikot dan masalah harga internal.
“CMRY muncul paling menonjol, mencapai pertumbuhan laba kotor yang kuat dari normalisasi harga bahan baku dan investasi strategis. Efisiensi operasional tetap menjadi fokus. Sebagian besar perusahaan mempertahankan manajemen opex yang disiplin meskipun ada inisiatif pertumbuhan,” papar Abyan.

