Ekonom: BI Punya Ruang Menaikkan Suku Bunga Acuan
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia disebut memiliki ruang untuk menarikan suku bunga acuan (BI-Rate), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik Iran-Israel belakangan ini.
Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Andry Asmoro menilai, kondisi baru yang saat ini terbentuk, memungkinkan BI untuk menaikkan suku bunga. Padahal hingga Maret 2024, konsensus masih yakin sentral bank ini akan mempertahankan BI-Rate di level 6%.
“Jadi be prepare kalau BI dadakan nggak ngasih sein tahu-tahu belok kanan, so be prepare,” tegas Andry dalam Market Outlook 2024: Prospek Investasi di Sektor Perbankan Pasca-Pemilu dan Musim Dividen di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (22/4/2024).
Selain karena terbentuknya konsensus, kenaikan BI-Rate juga semakin dimungkinkan bila nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus Rp 16.500 ke atas. Ditambah lagi, adanya aksi jual besar-besaran terhadap saham maupun obligasi oleh investor asing hingga terjadi capital outflow terus menerus.
Baca Juga
Survei BI: Kegiatan Usaha Terindikasi Meningkat, SBT Capai 14,11%
“Sekarang capital outflow, itu foreign ownership kan tinggal 14,1%. Waktu krisis dahulu antara 13,7% dari total kepemilikan, jadi relatif pressure dari capital outflow,” sambung Andry.
Pekan lalu, Rupiah terhitung sudah melemah sekitar 5,4% dibandingkan awal 2024. Sedangkan total penjualan saham oleh investor asing dihitung sejak awal tahun, sudah sekitar Rp 14 triliun.
Di sisi lain, dia mengakui bahwa BI-Rate berisiko terus mengikuti Fed Fund Rate (FFR) yang belum pasti kapan mulai menurunkan suku bunganya. Namun penaikan suku bunga BI dipercaya bisa menghentikan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Baca Juga
KAI Angkut 4,39 Juta Penumpang Selama Lebaran 2024, Meningkat Segini
“Contoh tahun lalu, (BI-Rate) dinaikkan pada Oktober, (Rupiah) sempat juga melemah dan kemudian menguat sendiri karena ada sentimen akan pemangkasan global acuan tadi,” ujar Andry.
Dia menegaskan bahwa tugas BI saat ini adalah menjaga inflasi. Dalam beberapa tahun terakhir fokus kebijakan BI berkutat pada stabilitas sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia terus terjaga di kisaran 5%. (CR-10)

