Ekonom PermataBank: Naiknya Suku Bunga Acuan BI Jadi Langkah Preemtif untuk Kelola Imported Inflation
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist PermataBank & Head of PIER (Permata Institute for Economic Research), Josua Pardede mengatakan, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuannya menjadi 6,25% merupakan langkah preemtif dalam rangka menjangkar ekspektasi inflasi, khususnya untuk mengelola imported inflation.
Karena dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) akan cenderung mendorong imported inflation. Sehingga untuk menekan hal tersebut BI memutuskan untuk menaikan suku bunganya.
Menurutnya, kenaikan suku bunga ini tidak serta merta memberikan dampak negatif terhadap perekonomian nasional. Karena jika diperhatikan, kebijakan yang dikeluarkan BI tidak hanya sebatas pada kebijakan moneter saja.
Baca Juga
“Namun ada kebijakan lainnya seperti kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM), sistem pembayaran dan lainnya, ini akan relatif longgar,” kata Josua, di Jakarta, Selasa (14/5/2024).
Di sisi yang bersamaan, ia memperkirakan dampak dari kenaikan suku bunga acuan BI terhadap suku bunga kredit perbankan akan cenderung lebih terbatas.
Baca Juga
Suku Bunga Acuan Tinggi, Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 155,46 Triliun
Karena jika melihat dari sisi likuiditas, beberapa indikator seperti alat likuid (AL) terhadap non core deposit (NCD) dan ALDPK masing diambang batas, dan masih belum ada tren yang mengetat secara signifikan.
“Sehingga dari sisi intermediasi perbankan pun kami melihatnya ini akan terjaga di kisaran 10% sampai dengan akhir tahun (2024),” ujar Josua.

