JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyebut dampak yang bisa ditimbulkan oleh kebijakan ekonomi pascaterpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Dari sisi stabilitas makro, kebijakan pengusaha terkemuka AS ini ke depan diproyeksi menyebabkan tekanan ke mata uang Garuda.

"Tekanan dalam bentuk volatilitas rupiah, depresiasi, nilai tukar bisa menyebabkan potensi inflasi barang impor atau imported inflation. Ini yang akan menjadi potensi imported inflation bagi Indonesia, karena harga barang-barang impor meningkat,” kata Riefky kepada investortrust.id, Jakarta, Selasa (19/11/2024).

Baca Juga

BI akan Tahan BI Rate 6% lantaran Pro-Stability, Lalu?

Potensi Capital Outflow
Selain inflasi dari barang-barang impor, Riefky juga menjelaskan ada potensi terjadi capital outflow dari Indonesia. Arus modal yang keluar dapat memperburuk ketahanan nilai tukar rupiah dan upaya pemerintah ketika akan menerbitkan utang.

“Ini membuat costly bagi pemerintah untuk meng-insuance (surat utang), karena denominasinya yang akan memengaruhi postur fiskal kita,” kata dia.

Melihat kondisi ini, Riefky menjelaskan, biasanya Bank Indonesia (BI) akan melakukan intervensi. Beberapa di antaranya dengan tiga instrumen yang sudah dimiliki BI di antaranya, Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI).

“Selain tiga instrumen itu, BI juga dapat mengubah tingkat suku bunga acuannya,” kata dia.

Baca Juga

RDG BI Dimulai, Kurs Rupiah Menguat Hari Ini

Dinilai Tak Pengaruhi The Fed

Sementara Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menduga, kebijakan Trump ke depan sebetulnya tidak akan memengaruhi keputusan the Fed terhadap suku bunganya dan imbal hasil US Treasury. Tetapi, lanjut dia, kebijakan ekonomi Trump bisa saja memaksa pertimbangan serius bagi the Fed.

“Misalnya potensi menunda penurunan rate-nya pada akhir tahun ini, atau hingga beberapa bulan ke depan. Namun, untuk menaikkan tampak kecil kemungkinannya,” ujar Awalil, Sabtu (16/11/2024).

Awalil memproyeksikan tantangan Indonesia sebenarnya lebih pada keseluruhan kondisi global, yang kemungkinan terpengaruh kebijakan ekonomi AS di bawah Trump. Salah satunya, persaingan untuk mendapatkan modal atau utang yang makin berat ke depan.

“Dalam konteks ini, arus modal asing masuk ke Indonesia diprakirakan lebih landai,” ujar dia.