Rupiah Bergerak Melemah, Ketegangan di Timur Tengah Masih Jadi Faktor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026). Rupiah melemah 0,37% menjadi Rp 17.987 per dolar AS pada pukul 09.09 WIB.
Di tengah pelemahan ini, sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS.
Yen Jepang menguat 0,03%, yuan China menguat 0,04%, ringgit Malaysia menguat 0,21%, dan dolar Singapura menguat 0,05%.
Sementara itu, peso Filipina dan baht Tailan melemah terhadap dolar AS. Peso melemah 0,16% dan baht melemah 0,04%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat posisi dolar yang menguat terlihat dari Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di kisaran 101 setelah menguat selama dua sesi berturut-turut, didukung oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak serta memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi suku bunga yang lebih tinggi.
Militer AS menyatakan telah melancarkan serangan udara baru terhadap Iran setelah tewasnya tiga personel militer Amerika, sementara Teheran menyatakan bahwa gencatan senjata dengan AS secara efektif telah berakhir dan mengklaim telah mencegat empat kapal yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.946 per Dolar AS, Menjauh dari Level Rp 18.000
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, bergabung dengan sejumlah pejabat The Fed yang memperingatkan bahwa inflasi masih tetap tinggi. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 53% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, meningkat dari 47% sehari sebelumnya.
"Meski demikian, bank sentral AS masih secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini," kata dia.
Perkembangan hubungan AS dan Iran akan tetap menjadi perhatian utama pasar global setelah eskalasi serangan militer, yang berdampak pada harga energi dan prospek kebijakan suku bunga bank-bank sentral.
Prospek sektor kecerdasan buatan (AI) akan kembali diuji melalui laporan keuangan sejumlah perusahaan hyperscaler, produsen chip, dan operator infrastruktur, termasuk Alphabet, Intel, Tesla, dan GE Vernova.
Sementara itu, pekan ini juga akan diwarnai rilis data ekonomi AS yang relatif lebih ringan, dengan fokus pada indikator awal S&P PMI, CB Leading Index, serta hasil survei regional Federal Reserve.
Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengumumkan keputusan suku bunga, sementara Eropa juga akan merilis sejumlah indikator sentimen. Inggris akan mengumumkan data inflasi, tingkat pengangguran, dan penjualan ritel. Di Jepang, data neraca perdagangan dan inflasi (CPI) juga akan menjadi perhatian pasar.
