Rupiah Bergerak Melemah, Defisit AS dan Situasi di Timur Tengah jadi Perhatian Pasar
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,04% menjadi Rp 17.885 per dolar AS pada Kamis (13/8/2026).
Sejumlah nilai tukar mata uang di kawasan Asia bergerak melemah terhadap dolar AS. Penguatan hanya terjadi pada won Korea Selatan sebesar 0,14%, rupee India sebesar 0,11%, yuan China menguat 0,02%, dolar Singapura menguat 0,02%, dan baht Thailand menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menegaskan indeks dolar AS atau DXY naik 0,19% seiring pemulihan dolar AS setelah sempat melemah pascarilis data CPI AS.
Inflasi AS melandai pada Juli, secara umum sesuai ekspektasi. CPI headline naik 0,1% secara bulanan dan turun menjadi 3,4% secara tahunan dari 3,5%, sementara core CPI naik 0,2% secara bulanan dan melambat menjadi 2,5% secara tahunan dari 2,6%.
Akan tetapi, indeks energi tetap tinggi di 14,7% secara tahunan, menunjukkan risiko inflasi yang berasal dari energi masih signifikan meskipun inflasi headline melandai.
"CPI yang lebih rendah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September," kata Andry.
Baca Juga
Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan 25 bps sekitar 40%, turun dari sekitar 46% sebelum rilis CPI. Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan suku bunga tetap menjadi skenario dasar yang diantisipasi pasar. Meski demikian, harga energi yang terus tinggi dan inflasi yang masih berada di atas target dapat mempertahankan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut pada akhir tahun.
Perhatian pasar akan beralih ke data Producer Price Index (PPI) AS untuk Juli yang dirilis malam ini. Data tersebut akan dicermati untuk melihat indikasi tekanan inflasi dari sisi hulu setelah PPI turun 0,3% mom pada Juni, terutama karena kenaikan harga minyak berpotensi mulai meningkatkan biaya produksi.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi karena kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz masih terbatas. Harga Brent ditutup di US$ 88,98 per barel dan WTI di US$ 83,27 per barel.
International Energy Agency (IEA) menurunkan proyeksi pasokan minyak global, dengan memperkirakan defisit pasokan sekitar 1,27 juta barel per hari pada 2026 karena gangguan di Timur Tengah terus membatasi produksi dan arus pengiriman.
Baca Juga
As the Rupiah Weakens, Indonesia’s Business Elite Is Urged to Shelter in Gold
Harga emas naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan setelah laporan inflasi AS yang lebih rendah. Harga emas spot naik sekitar 0,9% menjadi US$ 4.406,6 per ons, didukung oleh turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Kekhawatiran fiskal AS kembali menjadi perhatian setelah defisit anggaran federal melebar menjadi rekor US$ 432 miliar pada Juli.
Dengan demikian, defisit kumulatif tahun fiskal berjalan mencapai US$ 1,80 triliun, sudah melampaui defisit US$ 1,78 triliun sepanjang tahun fiskal sebelumnya. Tekanan fiskal yang terus berlanjut dapat menjadi sumber volatilitas bagi imbal hasil US Treasury bertenor panjang.

