Rupiah Melemah ke Rp18.070 per Dolar AS, DXY Turun Usai Inflasi AS Melandai
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/7/2026), meski tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam mulai mereda.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.18 WIB, rupiah melemah 0,01% ke level Rp 18.070 per dolar AS. Pergerakan serupa juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia. Yuan China melemah 0,05%, rupee India turun 0,07%, dolar Singapura terkoreksi 0,02%, dan baht Thailand melemah 0,10%. Di sisi lain, beberapa mata uang kawasan justru menguat, yakni yen Jepang sebesar 0,02%, peso Filipina 0,07%, dan ringgit Malaysia 0,13%.
Baca Juga
IHSG Dibuka Naik 0,24%, Saham AGAR hingga PRDL Lanjut Perkasa
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan Indeks Dolar AS (DXY) melemah tipis ke level 100,7 setelah data harga produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut menjadi indikasi baru bahwa tekanan inflasi di AS terus mereda.
Harga produsen AS secara tak terduga turun 0,3% pada Juni, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Selain itu, inflasi PPI tahunan maupun PPI inti juga tercatat lebih rendah dari perkiraan.
Data tersebut menyusul rilis inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang juga lebih rendah dari ekspektasi pada Selasa, sehingga semakin memperkuat sinyal bahwa inflasi di AS mulai melandai.
Baca Juga
Melesat 250% dalam Lima Hari, Saham Proline (PRDL) Masuk UMA
Merespons perkembangan tersebut, Presiden The Fed New York John Williams menyatakan bahwa meski inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi, terdapat alasan yang menggembirakan untuk memperkirakan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya. Namun, meningkatnya konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak masih menjadi risiko yang berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat.
Sementara itu, Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk mengembalikan stabilitas harga dalam kesaksiannya di hadapan Kongres. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 49%, turun dari sekitar 70% pada pekan lalu. Data inflasi yang lebih rendah mampu mengimbangi tekanan akibat kenaikan harga energi yang dipicu eskalasi serangan antara AS dan Iran. Imbal hasil obligasi sempat meningkat, namun kinerja keuangan emiten yang solid turut menopang penguatan pasar saham secara luas.
