Rupiah Melemah ke Rp17.980 per Dolar AS, DXY Bertahan di Level 101,1
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (1/7/2026) pukul 09.14 WIB, rupiah turun 0,41% ke level Rp17.980 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,09%, yuan China turun 0,08%, ringgit Malaysia melemah 0,10%, dolar Singapura turun 0,14%, dan baht Thailand melemah 0,31%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,1, masih bertahan di bawah posisi tertinggi 15 bulan sebesar 101,6 yang tercatat pada 24 Juni 2026. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi meredanya risiko lonjakan inflasi sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi lebih terbatas.
Baca Juga
Namun, DXY tetap mendapat dukungan dari kebijakan fiskal Jepang yang lebih longgar, yang menekan nilai tukar yen ke level terendah dalam empat dekade. Sementara itu, inflasi kawasan Uni Eropa yang lebih rendah dari perkiraan membatasi penguatan euro. "Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik 9,08 bps menjadi 4,47%," kata Andry.
Dari sisi pasokan energi, data satelit menunjukkan lalu lintas kapal tanker yang meninggalkan Teluk Persia dengan muatan minyak kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman serta mencabut blokade angkatan laut.
Prospek pulihnya pasokan energi dari kawasan tersebut mendorong penurunan harga minyak dan bahan bakar. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai mengurangi posisi yang sebelumnya mencerminkan ekspektasi beberapa kali kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Baca Juga
Stabilkan Harga Saham, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham Rp 2 Triliun
Meski demikian, proyeksi hawkish dari Federal Open Market Committee (FOMC), yang didukung oleh kuatnya pasar tenaga kerja dan inflasi inti yang tetap tinggi, masih menjaga risiko kebijakan moneter AS tetap berada pada level yang ketat atau restriktif.
Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan pelemahan. Indeks PMI Manufaktur S&P Global Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026. Angka tersebut menjadi level terendah sejak Juni 2025 dan menandai kontraksi sektor manufaktur untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini.
Penurunan PMI dipicu oleh melemahnya permintaan. Pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dengan laju penurunan tercepat dalam satu tahun, mencerminkan melemahnya daya beli di tengah kenaikan harga. Penjualan ekspor juga merosot tajam dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
