Rupiah Melemah ke Rp17.979 per Dolar AS, DXY Menguat Didukung Permintaan Safe Haven
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (24/7/2026), seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang didorong meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada pukul 10.20 WIB, rupiah tercatat melemah Rp 26 ke level Rp 17.979 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia melemah 0,12%, sementara yuan China, peso Filipina, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,01%.
Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,04%, won Korea Selatan naik 0,81%, dan baht Thailand menguat 0,01%. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS (DXY) menguat untuk hari keempat berturut-turut ke level 101,3, yang merupakan posisi tertinggi sejak April tahun lalu.
Baca Juga
IHSG Anjlok Hampir 2%, Analis Soroti Dua Sentimen Negatif Berikut
Menurut Andry, penguatan dolar AS terjadi karena investor terus memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Selain itu, dolar AS memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman (flight to safety) di tengah aksi jual saham-saham teknologi.
"Sikap hawkish The Fed pekan lalu mendorong pasar meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter, dengan pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 68% untuk kenaikan suku bunga pada September, naik dari 29% sepekan sebelumnya," ujar Andry.
Dia menambahkan, penguatan dolar AS juga didukung oleh data awal S&P Global PMI yang lebih baik dari perkiraan, menunjukkan aktivitas ekonomi AS tetap tangguh pada Juni.
Baca Juga
Petrosea (PTRO) Investasi Rp1,19 Triliun di SINI, Kepemilikan Saham Naik Jadi 19,88%
Saat ini, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi utama bagi The Fed untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Di sektor manufaktur, S&P Global US Manufacturing PMI naik menjadi 55,7 pada Juni 2026 dari 55,1 pada Mei. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,8 dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2022.
Kenaikan tersebut menunjukkan kondisi bisnis manufaktur AS terus membaik sejak Agustus tahun lalu, dengan laju pertumbuhan yang semakin cepat sejak mencapai titik terendah pada Februari. Pertumbuhan produksi juga meningkat ke level tercepat sejak Juli 2021.
