Rupiah Lanjut Melemah terhadap Dolar AS, Didorong Permintaan Safe Haven
JAKARTA, investortrust.id – Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Rupiah melemah sebesar 0,4% menjadi Rp 17.931 per dolar AS pada pukul 09.01 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Dolar AS bergerak menguat pada perdagangan hari ini. Indeks Dolar AS (DXY) menguat untuk hari keempat berturut-turut ke level 101,3, tertinggi sejak April tahun lalu.
Dolar AS terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang di Asia. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,02%, rupee India sebesar 0,06%, ringgit Malaysia sebesar 0,07%, peso Filipina sebesar 0,34%, dan dolar Singapura sebesar 0,03%, serta baht Tailan menguat 0,4%.
Baca Juga
Yuan China menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan menguat 0,03% terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya permintaan aset aman (flight to safety) akibat aksi jual pada saham-saham teknologi.
Di antara mata uang utama, dolar AS mencatat penguatan terbesar terhadap dolar Australia dan euro.
Sikap hawkish, The Fed pekan lalu mendorong pasar meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter, dengan pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 68% untuk kenaikan suku bunga pada September, naik dari 29% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
MSCI Tunggu Bukti Reformasi Pasar Hingga November 2026, Status Emerging Market masih Dievaluasi
S&P Global PMI menunjukkan aktivitas ekonomi AS tetap tangguh pada Juni. Fokus investor kini beralih ke laporan inflasi PCE minggu ini, indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed, untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.
Pertumbuhan sektor manufaktur mencapai level terkuat sejak 2022. Indeks S&P Global US Manufacturing PMI naik menjadi 55,7 pada Juni 2026 dari 55,1 pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,8 dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2022.
Ekspansi ini menunjukkan kondisi bisnis manufaktur terus membaik sejak Agustus tahun lalu, dengan laju pertumbuhan yang semakin cepat sejak titik terendah pada Februari. Pertumbuhan produksi juga meningkat ke laju tercepat sejak Juli 2021.
