Ketika Semua Daerah Ingin Menjadi Juara Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
Oleh: Andri Yudhi Supriadi - Statistisi Badan Pusat Statistik, Alumni Universitas Indonesia
INVESTORTRUST - Beberapa menit setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi, ruang publik hampir selalu menyajikan pemandangan yang sama. Portal berita berlomba menampilkan daftar daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi. Pemerintah daerah segera mengunggah infografik berisi angka persentase pertumbuhan wilayahnya. Di media sosial, angka-angka itu berubah menjadi bahan perbandingan. Ada yang bangga karena berada di posisi atas, ada pula yang mulai mempertanyakan mengapa daerahnya tertinggal.
Dalam waktu singkat, pembangunan seolah berubah menjadi sebuah papan klasemen.
Fenomena ini terus berulang karena manusia memang menyukai peringkat. Peringkat membuat kenyataan yang rumit terasa sederhana. Daerah dengan pertumbuhan tertinggi dianggap paling berhasil, sedangkan daerah dengan pertumbuhan lebih rendah dipersepsikan kurang berkinerja. Cara membaca seperti ini memang mudah dipahami, tetapi justru berisiko menyesatkan.
Statistik ekonomi tidak pernah dirancang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Statistik hadir untuk membantu kita memahami kenyataan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urutan angka.
Rilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 memberikan ilustrasi yang sangat menarik. Secara spasial, kelompok provinsi di Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi, yakni 7,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini berada di atas Sulawesi yang tumbuh 6,95 persen, Jawa 5,79 persen, Sumatera 5,13 persen, Maluku dan Papua 4,46 persen, serta Kalimantan 4,08 persen. Jika hanya melihat persentase tersebut, mudah muncul kesan bahwa Bali dan Nusa Tenggara menjadi "juara" pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun cerita berubah ketika melihat ukuran perekonomian masing-masing wilayah. Pulau Jawa menyumbang 57,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sedangkan Bali dan Nusa Tenggara hanya 2,80 persen. Perbedaan basis ekonomi ini membuat kontribusi terhadap pertumbuhan nasional juga berbeda. Jawa menyumbang 3,42 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sementara Bali dan Nusa Tenggara hanya 0,21 poin persentase meskipun laju pertumbuhannya lebih tinggi.
Di sinilah banyak orang keliru membaca statistik. Persentase pertumbuhan menunjukkan kecepatan perubahan, tetapi tidak selalu mencerminkan besarnya aktivitas ekonomi yang tercipta. Daerah dengan ekonomi relatif kecil dapat tumbuh sangat cepat karena tambahan aktivitas ekonomi yang tidak terlalu besar sudah mampu menghasilkan persentase tinggi. Sebaliknya, daerah dengan basis ekonomi yang sangat besar sering kali hanya tumbuh lima atau enam persen, tetapi tambahan nilai ekonominya jauh lebih besar bagi perekonomian nasional.
Analogi sederhananya seperti dua kendaraan. Sepeda motor dapat melaju lebih cepat daripada sebuah truk besar. Namun ketika berbicara tentang kapasitas angkut logistik, truk tetap memberikan kontribusi yang jauh lebih besar. Demikian pula dalam perekonomian. Kecepatan memang penting, tetapi ukuran ekonomi juga menentukan besarnya dampak yang dihasilkan.
Kesalahan serupa juga sering muncul ketika publik hanya memperhatikan sektor ekonomi dengan pertumbuhan paling tinggi. Pada Triwulan I-2026, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 13,14 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Industri Pengolahan yang tumbuh 5,04 persen. Sekilas, sektor pariwisata tampak menjadi motor utama perekonomian. Padahal kenyataannya tidak demikian. Industri Pengolahan masih menjadi sektor terbesar dengan kontribusi 19,07 persen terhadap PDB nasional, sementara Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum hanya sekitar 2,79 persen. Artinya, pertumbuhan moderat pada sektor manufaktur justru memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap ekonomi Indonesia dibandingkan pertumbuhan dua digit pada sektor yang basisnya relatif kecil.
Perspektif inilah yang sering hilang ketika ruang publik terlalu sibuk menyusun klasemen pertumbuhan.
Baca Juga
Fatamorgana Daya Beli: Saat Transaksi Disangka Kesejahteraan
Pertumbuhan vs Kesejahteraan
Paradoks berikutnya bahkan lebih penting. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu identik dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Daerah dapat mencatat pertumbuhan tinggi karena harga komoditas sedang naik atau adanya proyek investasi berskala besar yang bersifat sementara. Sebaliknya, ada daerah yang pertumbuhannya lebih moderat tetapi mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan produktivitas usaha, memperluas akses pendidikan, atau menurunkan tingkat kemiskinan.
Jika tujuan pembangunan adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka ukuran keberhasilannya tentu tidak dapat berhenti pada satu angka pertumbuhan ekonomi.
Di sinilah tantangan literasi statistik menjadi semakin penting. Ruang publik sering kali lebih tertarik pada daftar "sepuluh daerah dengan pertumbuhan tertinggi" daripada menjelaskan mengapa angka tersebut muncul. Padahal statistik tidak pernah dimaksudkan sebagai papan klasemen. Statistik adalah alat untuk memahami dinamika ekonomi, mengenali kekuatan dan kelemahan struktur ekonomi suatu daerah, serta merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Dalam dunia statistik, ada satu pertanyaan yang selalu layak diajukan sebelum menarik kesimpulan.
Dibandingkan apa? Apakah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya? Dengan periode yang sama tahun lalu? Dengan daerah yang memiliki struktur ekonomi serupa? Atau dibandingkan dengan tujuan pembangunan itu sendiri?
Pertanyaan sederhana ini sering kali menentukan apakah sebuah angka akan menghasilkan pemahaman atau justru menimbulkan kesalahpahaman.
Karena itu, ketika BPS kembali merilis data pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan berikutnya, yang paling penting bukanlah mencari daerah mana yang menjadi juara. Yang jauh lebih penting adalah memahami cerita di balik angka tersebut: seberapa besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional, bagaimana kualitas pertumbuhannya, siapa yang menikmati hasilnya, dan apakah pertumbuhan itu benar-benar memperbaiki kehidupan masyarakat.
Di era ketika data semakin melimpah, tantangan terbesar bukan lagi menghasilkan statistik, melainkan membangun kemampuan untuk menafsirkannya secara benar. Selama pembangunan masih dipahami sebagai perlombaan mengejar posisi dalam peringkat, kita akan terus sibuk mencari siapa yang berada di urutan pertama. Padahal pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru sering terabaikan: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?
