Inflasi AS Melonjak, Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Kian Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Rupiah melemah 0,25% menjadi Rp 17.987 per dolar AS pada perdagangan pukul 09.27 WIB.
Sejumlah mata uang di Asia dan tiga mata uang utama dunia bergerak melemah terhadap dolar AS.
Yen Jepang melemah 0,01%, yuan China melemah 0,07%, dolar Singapura melemah 0,08%, dan baht Tailan melemah 0,38%. Sementara itu, franc Swiss bergerak melemah 0,11%. Pelemahan juga terjadi pada euro Uni Eropa sebesar 0,13% dan poundsterling Britania Raya sebesar 0,07%.
Sementara itu, rupee India menguat sebesar 0,27% terhadap dolar AS. Penguatan juga terjadi pada ringgit Malaysia dan peso Filipina. Dua mata uang tersebut masing-masing menguat 0,3% dan 0,11%.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan rupiah telah terprediksi sebelumnya. Sebab, pada Kamis waktu AS, Badan Pusat Statistik (BPS) AS mengeluarkan data inflasi terbarunya.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Rp17.950 per Dolar AS, Data Inflasi AS Jadi Sorotan Pasar
Berdasarakan data BPS AS, indeks harga konsumen atau Personal Consumption Expenditure (PCE) AS pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,1% secara tahunan. Sementara, perhitungan tanpa memasukkan biaya bahan makanan dan energi atau inflasi inti tercatat sebesar 3,4% secara tahunan. CNBC menyebut angka ini tertinggi sejak April 2026.
Pemicu kenaikan inflasi ini yaitu faktor kenaikan harga bahan bakar dan makanan. Indeks harga energi naik 23,5% secara tahunan dan indeks harga pangan naik 3,1% secara tahunan.
Kondisi ini, kata Ibrahim, memicu spekulasi tentang kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS selama dua kali pada 2026.
“Sehingga wajarlah kalau seandainya dolar AS ini menguat,” kata Ibrahim.
Inflasi juga akan menjadi tantangan di dalam negeri. Ibrahim memperkirakan inflasi pada Juni 2026 akan dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green. Dengan kenaikan harga BBM non-subsidi ini, bahan pokok juga terkerek.
“Karena (biaya) transportasi juga naik. Ini akan berdampak terhadap inflasi di bulan Juni,” ujar dia.
