Rupiah Melemah Saat Mayoritas Mata Uang, Emerging Market Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Rupiah kembali bergerak berlawanan arah dengan mayoritas mata uang emerging market (EM). Ketika sebagian besar mata uang negara berkembang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring turunnya indeks dolar AS, rupiah justru melemah signifikan, menandakan tekanan domestik masih lebih dominan dibanding sentimen global yang mulai membaik.
Berdasarkan BRI Weekly Economic Update W4 Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Selasa (02/06/2026), indeks dolar AS atau DXY turun ke level 98,94, melemah 0,30% secara mingguan pada pekan keempat Mei 2026. Pelemahan dolar AS didorong oleh membaiknya sentimen risiko global seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya harapan pasar terhadap prospek perdamaian AS-Iran.
Sejalan dengan penurunan DXY, mayoritas mata uang EM menguat terhadap dolar AS. Hungarian forint menguat 1,86%, rand Afrika Selatan 1,47%, peso Chile 1,23%, won Korea Selatan 0,90%, rupee India 0,74%, zloty Polandia 0,67%, rubel Rusia 0,62%, dolar Taiwan 0,61%, yuan China 0,44%, baht Thailand 0,42%, peso Filipina 0,15%, dan ringgit Malaysia 0,11%.
Baca Juga
Yield SRBI dan SBN Meningkat, Capital Outflow Juga Meningkat
Namun, tidak semua mata uang EM menikmati sentimen positif tersebut. Beberapa mata uang tetap melemah karena faktor domestik masing-masing negara. Peso Kolombia melemah 0,77%, peso Argentina 0,64%, lira Turki 0,33%, peso Meksiko 0,10%, dan dolar Hong Kong 0,02%. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang mengalami tekanan paling nyata, melemah 0,93% secara mingguan ke Rp17.874 per dolar AS.
Pelemahan rupiah itu melanjutkan tren depresiasi selama sembilan pekan beruntun. Tekanan tetap terjadi meski Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin ke 5,25% dalam RDG Mei 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan rupiah tidak semata-mata dipicu faktor eksternal, tetapi juga oleh sentimen domestik, defisit neraca pembayaran, capital outflow, dan persepsi pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Operasi Moneter
Bank Indonesia terus memperkuat operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu instrumen yang digunakan adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. BRI mencatat yield SRBI kembali meningkat, sejalan dengan kenaikan outstanding SRBI yang mencapai Rp939,88 triliun pada W4 Mei 2026.
Namun, kenaikan yield belum cukup menarik minat investor asing. Investor asing justru mencatat net portfolio outflow sebesar Rp1,09 triliun dari SRBI. Ini menunjukkan upaya stabilisasi rupiah masih menghadapi tantangan, terutama karena investor global tetap berhati-hati terhadap aset rupiah.
Baca Juga
PMI Manufaktur RI Membaik, Menperin: Stok Bahan Baku Dijaga Demi Keberlanjutan Produksi
Tekanan serupa juga terjadi di pasar SBN. Yield SBN meningkat selektif, dengan kenaikan tajam pada tenor satu tahun sebesar 30 basis poin. Investor asing mencatat net outflow Rp0,79 triliun dari pasar obligasi Indonesia. Di pasar saham, net outflow asing mencapai Rp12,34 triliun, ikut menekan IHSG yang melemah 0,56% ke level 6.127.
Tekanan rupiah juga dipengaruhi defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada kuartal I-2026, NPI mencatat defisit US$9,15 miliar, berbalik dari surplus US$6,07 miliar pada kuartal IV-2025. Defisit ini jauh lebih besar dibanding rata-rata kuartal pertama pascapandemi.
Defisit NPI disebabkan oleh dua tekanan sekaligus. Pertama, defisit transaksi berjalan meningkat menjadi US$4,01 miliar, dari US$2,48 miliar pada kuartal sebelumnya. Penyebabnya adalah turunnya surplus neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit pendapatan primer.
Kedua, neraca transaksi modal dan finansial berbalik defisit US$4,92 miliar, dari sebelumnya surplus US$8,97 miliar. Tekanan terbesar berasal dari defisit investasi lainnya sebesar US$7,80 miliar, terutama akibat pembayaran utang luar negeri dan utang dagang sektor swasta domestik.
Surplus investasi langsung juga menurun ke US$2,02 miliar, sedangkan surplus investasi portofolio turun tajam ke US$0,73 miliar dari US$4,70 miliar. Penurunan ini menunjukkan investor global masih menilai aset domestik secara selektif.
Arah Suku Bunga
Arah suku bunga perbankan Indonesia masih akan dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, terutama Federal Funds Rate (FFR). Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menahan FFR di level 3,75% sepanjang 2026. Bahkan, pasar melihat peluang FFR naik ke 4,00% pada akhir kuartal I-2027, meski probabilitasnya masih terbatas.
Stance The Fed yang masih hawkish membuat likuiditas global tetap ketat. Bagi Indonesia, kondisi ini mempersempit ruang pelonggaran suku bunga domestik. BI diperkirakan tetap menjaga kebijakan moneter pro-stabilitas untuk menahan pelemahan rupiah.
Baca Juga
IHSG Intraday Sesi I Anjlok 3,57%, Saham Prajogo dan Big Bank Amblas
Implikasinya, cost of fund perbankan berpotensi tetap tertekan. Pertumbuhan uang beredar luas atau M2 memang masih solid, tetapi melambat ke 9,2% yoy pada April 2026 dari 9,7% yoy pada Maret 2026. Pertumbuhan M1 dan uang kuasi juga sama-sama termoderasi. Perbankan perlu menjaga likuiditas secara lebih hati-hati di tengah tekanan pasar.
Sentimen pasar global sebenarnya membaik. Volatilitas pasar keuangan turun, CDS mayoritas negara menurun, dan emerging market mencatat net portfolio inflow sebesar US$9,79 miliar. Namun, pasar domestik belum sepenuhnya menikmati perbaikan itu.
Investor asing masih mencatat outflow dari saham, SBN, dan SRBI. Ini menandakan sentimen terhadap aset rupiah masih terbatas. Pelaku usaha juga cenderung menahan ekspansi karena nilai tukar melemah, biaya dana berpotensi naik, dan ketidakpastian eksternal belum sepenuhnya mereda.
LEI China Melemah
Perkembangan ekonomi China juga perlu dicermati karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia. BRI mencatat Leading Economic Index China turun ke 143,6 pada April 2026 dari 144,7 pada Maret 2026. Secara tahunan, LEI China terkontraksi lebih dalam ke minus 3,4% yoy.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Bertahan di Rp 2,774 Juta, Investor Menunggu Data AS
Tekanan terbesar berasal dari pelemahan ekspektasi konsumen, aktivitas logistik, dan sektor properti. PMI manufaktur China juga turun ke 50,0 pada Mei 2026 dari 50,3, sementara PMI nonmanufaktur hanya naik terbatas ke 50,1.
Bagi Indonesia, perlambatan China dapat menekan permintaan ekspor komoditas, terutama batu bara, CPO, nikel, besi baja, dan produk manufaktur berbasis bahan baku. Jika permintaan China melemah, surplus perdagangan Indonesia berisiko turun, sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan dan rupiah dapat berlanjut.
Dengan demikian, pelemahan rupiah di tengah penguatan mayoritas mata uang EM menjadi sinyal bahwa persoalan utama Indonesia saat ini berada pada faktor domestik: defisit eksternal, aliran modal keluar, tekanan likuiditas jangka pendek, dan sentimen pasar yang belum pulih. Selama faktor-faktor tersebut belum membaik, rupiah masih berisiko tertinggal dari mata uang emerging market lain meski dolar AS sedang melemah.

