Rupiah, Ringgit, dan Rupee Berbalik Melemah, Sejumlah Mata Uang di Asia Lanjutkan Penguatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (7/8/2026). Rupiah melemah 0,07% menjadi Rp 17.935 per dolar AS.
Pelemahan juga terjadi pada rupee India. Rupee melemah sebesar 0,1%. Selain rupee, data Bloomberg juga menunjukkan pelemahan yang terjadi pada ringgit Malaysia sebesar 0,04%. Peso Filipina juga terpantau melemah sebesar 0,34%.
Meski demikian, sejumlah mata uang di kawasan Asia melanjutkan tren penguatan. Yen Jepang menguat 0,04%, won Korea Selatan menguat 0,22%, dolar Singapura menguat 0,05%, dan baht Tailan menguat 0,03%.
Baca Juga
Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Lanjutkan Penguatan Terhadap Dolar AS
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS (DXY) menguat tipis ke 99,8, namun masih berada di dekat level terendah dalam tujuh minggu terakhir. Investor menyeimbangkan optimisme terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah dengan sikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang sangat dinantikan pada Jumat.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 6,51 bps menjadi 4,68%.
Dalam pantauan Andry, Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Kondisi ini memunculkan harapan bahwa arus distribusi energi melalui jalur perairan strategis tersebut dapat kembali normal.
Meski demikian, kesepakatan yang lebih luas antara AS dan Iran masih belum pasti. Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi masih berlangsung dan ia akan "melihat bagaimana perkembangannya."
Baca Juga
Rupiah Menguat 0,29% ke Rp17.974 Jelang Data Pertumbuhan Ekonomi RI
Perhatian pasar kini juga tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) AS yang akan datang, yang diharapkan memberikan gambaran terbaru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS sekaligus arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari ekspektasi, hal tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sebaliknya, apabila data lebih lemah dari perkiraan, pasar kemungkinan akan mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, sehingga turut meredakan tekanan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

