Rupiah Lunglai di Hadapan Dolar AS, Rupee dan Ringgit Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terdepresiasi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Rupiah melemah 0,2% menjadi Rp 17.246 per US$ pada perdagangan pukul 09.24 WIB.
Sejumlah mata uang di Asia terpantau melemah. Yen Jepang melemah 0,06%, yuan China melemah 0,04%, dan dolar Singapura melemah 0,05%.
Dua mata uang di kawasan Asia yang terpantau menguat yaitu ringgit Malaysia dan rupee India. Ringgit menguat 0,05% dan rupee menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, posisi imbal hasil US Treasury 10 tahun yang naik 3,88 basis poin ke 4,43% turut mempengaruhi pergerakan mata uang di kawasan.
Baca Juga
IHSG Oversold di Tengah Tekanan Rupiah, Simak Rekomendasi Saham IPOT
Selain itu, keputusan Iran terbuka untuk mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz apabila AS mencabut blokadenya, direspons dengan turunnya indeks dolar AS (DXY) turun ke sekitar 98,5. DXY sempat naik hingga 99,3 pada awal sesi.
"Pasar merespons laporan bahwa Iran telah mengajukan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan ketegangan," kata Andry.
Proposal tersebut, yang dilaporkan disampaikan melalui mediator Pakistan, menyerukan perpanjangan gencatan senjata guna memungkinkan kemajuan menuju penyelesaian permanen, serta menunda negosiasi nuklir hingga blokade AS atas selat tersebut dicabut.
Baca Juga
Pelemahan Rupiah Disebut Bisa Berdampak pada Kenaikan Klaim Asuransi Kesehatan
Pada awal sesi, dolar sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan senior untuk putaran kedua perundingan dengan Iran. Sementara Teheran kembali menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman atau kondisi blokade.
Di dalam negeri Paman Sam, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (fed funds rate) pada pertemuan berikutnya dan untuk sebagian besar tahun ini. Keputusan kebijakan juga akan diumumkan oleh ECB, BoE, dan BoJ.

