The Fed Turunkan Suku Bunga, Rupiah Lunglai ke Rp 16.476 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) resmi menurunkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR), sebesar 25 basis poin menjadi 4%-4,25% pada Rabu (17/9/2025) waktu setempat.
Keputusan ini diambil untuk merespons tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja di Negeri Paman Sam dan menjadi sinyal awal potensi pelonggaran kebijakan moneter yang lebih luas.
Baca Juga
Jelang Akhir Pekan, JISDOR Perlihatkan Rupiah Perkasa di Rp 16.391 per US$
Pemangkasan ini langsung mengguncang pasar keuangan global. Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah yang melemah 0,23% ke Rp 16.476 per dolar AS. Yuan China, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan peso Filipina juga tertekan, sedangkan yen Jepang dan baht Thailand justru mencatat penguatan tipis.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai langkah The Fed sebagai strategi manajemen risiko di tengah perlambatan ekonomi AS. “Dari sisi pasar pendanaan, The Fed mempertahankan laju pengetatan kuantitatif meskipun terjadi penurunan tajam pada fasilitas reverse repo overnight sejak pertemuan terakhir,” jelas Andry dalam keterangannya, Kamis (18/9/2025).
Ia menambahkan, komentar Ketua Dewan Gubernur The Fed Jerome Powell yang menegaskan pemangkasan suku bunga ini tidak serta-merta menandakan siklus pelonggaran agresif, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi di semua tenor. Hal ini membuat pergerakan pasar surat utang tetap bergejolak.
BI ikut turunkan BI rate
Dampak keputusan The Fed juga dirasakan di dalam negeri. Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan memangkas BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% dalam rapat dewan gubernur September 2025, melawan ekspektasi pasar yang memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5%.
Baca Juga
Mata Uang Asia Menguat, Cuma Rupiah yang Loyo pada Awal Pekan Ini
Dengan pemangkasan ini, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak September tahun lalu, menjadikannya yang terendah sejak Oktober 2022. Langkah ini mencerminkan proyeksi BI bahwa inflasi 2025-2026 akan tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, nilai tukar rupiah stabil, serta perlunya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Andry memperkirakan nilai tukar rupiah di pasar spot masih akan bergerak di kisaran Rp 16.343 hingga Rp 16.435 per dolar AS dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

