Rupiah Menguat Lawan Dolar AS, Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Kian Luntur
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan taringnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi, 4 Juli 2025. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.15 WIB, rupiah menguat 28 poin atau 0,17% ke posisi Rp16.223 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi seiring memudarnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Baca Juga
Gantikan SEOJK 7/2025, OJK Siapkan POJK Baru untuk Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro, mengungkapkan bahwa pasar saat ini menyampingkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Juli 2025. Bahkan, probabilitas penurunan suku bunga pada September telah terkoreksi turun ke sekitar 80%, dari sebelumnya nyaris 100% sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Ketua The Fed Jerome Powell pun menegaskan pendekatan yang lebih hati-hati dan cenderung menunggu data sebelum mengambil keputusan kebijakan moneter selanjutnya. "Pasar saat ini lebih banyak wait and see. Sentimen juga terpengaruh oleh perkembangan politik dan kebijakan fiskal AS," ujar Andry dalam laporannya, Jumat (4/7/2025).
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati perkembangan terkait RUU Pemotongan Pajak di Senat AS, yang berhasil melewati tahap awal dan tengah menanti persetujuan dari Kongres.
Tak hanya itu, kabar dari Presiden Donald Trump juga ikut membentuk sentimen. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengumumkan bahwa AS telah menyepakati perjanjian dagang baru dengan Vietnam, yang menetapkan tarif impor hanya 20%, turun signifikan dari 46% yang diberlakukan pada April lalu.
Baca Juga
Dari sisi data ekonomi, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 233.000, atau berkurang 4.000 dari minggu sebelumnya. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan konsensus sebesar 240.000.
Namun, menurut Andry, meski penurunan klaim menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS masih berlangsung secara bertahap, kondisi ini tetap kuat jika dibandingkan dengan standar historis. “Meskipun ini adalah peningkatan paling kecil dalam enam minggu terakhir, angka pengangguran masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan awal tahun,” jelasnya.

