Purbaya: Lembaga Pemeringkat Akan Hukum Negara yang Tidak Kelola Fiskal Secara Prudent
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah memastikan pengelolaan keuangan engara secara hati-hati, karena pengelolaan fiskal Indonesia berada dalam pengawasan lembaga pemeringkat kredit internasional.
Menurut Purbaya, lembaga-lembaga pemeringkat dunia terus mencermati apakah Indonesia mampu untuk menjalankan kebijakan fiskal secara prudent atau tidak.
Baca Juga
Puji Danantara Kelola Aset US$ 1.000 Miliar, Prabowo: Peringkat 6 Terbesar Dunia
“Kita diawasi oleh lembaga-lembaga pemeringkat dunia yang melihat apakah kita bisa menjalankan kebijakan yang prudent atau tidak. Begitu tidak prudent, mereka akan menghukum kita,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Purbaya mengatakan pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal, salah satunya dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah batas yang telah ditetapkan dalam undang-undang, yakni di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ia mengakui pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan untuk menjaga daya beli masyarakat, stabilitas sosial-politik, dan stabilitas perekonomian. Namun, menurutnya, terdapat keterbatasan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. “Tapi dalam keadaan sekarang, karena memang ada keterbatasan. Kita tidak bisa mengajak semuanya tanpa membahayakan fiskal kita,” ujarnya.
Baca Juga
UU P2SK: BI, Kemenkeu, dan Danantara Berpotensi Jadi Pemegang Saham BEI
Purbaya juga mengaku heran mengapa lembaga pemeringkat internasional memberikan perhatian besar terhadap pengelolaan fiskal Indonesia. Menurut dia, sejumlah negara lain, seperti Malaysia, Vietnam, India, hingga Amerika Serikat telah mencatat defisit yang melampaui batas 3% terhadap PDB. “Hanya kita yang disorot. Saya juga agak bingung sebetulnya. Kenapa?” kata Purbaya.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah akan tetap menjaga defisit anggaran secara ketat. Bahkan, ia berharap Indonesia dapat menunjukkan disiplin fiskal yang lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk di kawasan Eropa yang beberapa di antaranya telah mencatat defisit di atas 3% dari PDB. “Nanti kita tunjukin ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita,” ujar Purbaya.
