Menkeu Pamerkan Fiskal/APBN RI yang 'Prudent' di University of California Berkeley
JAKARTA, Investortrust.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan, di tengah banyaknya ketidakmampuan sejumlah negara menjaga fiskal/APBN nya secara baik, Indonesia mampu mengelola APBN secara hati-hati, prudent dan responsive serta akuntabel dan tetap sehat atau kredibel.
"Indonesia mengelola APBN secara hati-hati/prudent dan responsive serta akuntabel dan tetap sehat/kredibel. Banyak negara tidak mampu menjaga fiskal/APBN dengan baik, sehingga memicu krisis keuangan dan ekonomi yang mengancam stabilitas sosial politik," ujarnya saat mengisi kuliah umum di University of California, Berkeley pada hari terakhir kunjungan kerja di San Fransisco pada Kamis lalu. (16/11/2023).
Baca Juga
Hari itu Menkeu menyajikan topik “Fiscal Policy in Turbulent Times: Experience and Lesson Learnt” di hadapan para mahasiswa dan akademisi.
"Setiap masa selalu terjadi guncangan yang mengancam ekonomi (berupa) pandemi, climate change, perang-geopolitik, disrupsi supply, dan saat ini inflasi dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan Eropa. APBN (Kebijakan Fiskal) berfungsi melindungi perekonomian dan rakyat melalui fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi," ujar Sri Mulyani sebagaimana dikutip dari laman resmi Instagram @smindrawati, Sabtu (18/11/2023).
Untuk menjalankan fungsinya, Menkeu memaparkan bahwa APBN harus terus dijaga agar tetap sehat, kredibel, dan sustainable untuk mengatasi masalah kualitas sumber manusia, infrastruktur, produktivitas, serta daya saing. Sehingga, dapat terwujud kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menkeu melanjutkan, dalam mengatasi ancaman perubahan iklim, kebijakan fiskal juga sangat penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau termasuk transisi energi.
"Indonesia menjadi ketua Koalisi Menteri Keuangan Dunia untuk Climate Action," jelas sang Bendahara Negara.
Baca Juga
Pada kesempatan tersebut, para mahasiswa sangat antusias menyampaikan berbagai pertanyaan. Antara lain tentang pembangunan sektor pertanian, inklusi keuangan, krisis keuangan yang meliputi dinamika global dan tantangan pengelolaan utang dan kondisi suku bunga tinggi (higher for longer).
"Ada juga pertanyaan personal atau nasihat menyangkut karier dan mengejar cita-cita, hingga bagaimana menjadi generasi yang bermanfaat dan memberi impact positive bagi masyarakat," tulis Sri Mulyani.
Menteri Keuangan pun mengungkapkan kegembiraannya dapat berbagi pengalaman berharga bersama para mahasiswa dan akademisi di UC Berkeley.
"Happy to see very enthusiastic audience and good to be able to share valuable experiences with students and faculty members at UC Berkeley. Thanks for The School Of Engineering and also Center for Financial Wellness - UC Berkeley, and BISA (Berkeley Indonesia Student Association). Go Bears..!," tandasnya.

