Indonesia Gandeng UC Berkeley, Bangun Jaringan Keamanan AI Global
SINGAPURA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama internasional dalam pengembangan kecerdasan artifisial (AI), dengan menggandeng University of California, Berkeley. Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria usai bertemu dengan pakar AI sekaligus profesor keamanan digital UC Berkeley, Prof. Dawn Song, di sela-sela gelaran ATx AI Summit 2025 di Singapura, beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas urgensi pembentukan jaringan institut keamanan AI yang berfungsi sebagai wadah kolaboratif antara pemerintah, institusi akademik, industri, dan masyarakat sipil. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pengembangan teknologi AI di berbagai negara, termasuk Indonesia, berlangsung secara aman, etis, dan berpihak pada kepentingan publik.
Nezar menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan mengembangkan kebijakan dan regulasi AI yang berbasis riset empiris dan best practices global. "Kami melihat perlunya pendekatan multidisipliner dan evidence-based dalam membangun kerangka regulasi AI, terutama terkait keamanan, privasi, dan akuntabilitas sistem AI,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/5/2025).
Indonesia sendiri tengah memfinalisasi National AI Strategy yang ditargetkan rampung pada akhir 2025. Strategi ini memuat peta jalan pengembangan AI nasional, yakni tata kelola dan etika AI, pengembangan talenta digital, penelitian dan inovasi, infrastruktur data, serta pemanfaatan AI di sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pelayanan publik.
Menurut laporan Oxford Insights 2023, posisi Indonesia dalam indeks kesiapan tata kelola AI global masih berada di peringkat ke-74 dari 193 negara. Hal ini menandakan perlunya peningkatan kolaborasi lintas sektor dan dukungan internasional untuk mempercepat transformasi digital nasional secara bertanggung jawab.
Prof. Dawn Song menyambut baik inisiatif Indonesia tersebut. Ia menekankan pentingnya membangun jaringan pertukaran pengetahuan dan harmonisasi standar global agar inovasi teknologi tidak meninggalkan aspek keselamatan pengguna.
Kerja sama ini juga akan mendorong pembentukan badan penasihat AI nasional yang beranggotakan pakar lintas bidang, termasuk ilmuwan AI, ahli etika, pakar hukum, serta perwakilan masyarakat sipil. Kedua pihak juga menekankan pentingnya penyelarasan kebijakan Indonesia dengan prinsip internasional seperti OECD AI Principles, Hiroshima AI Process G7, dan rekomendasi dari UN High-level Advisory Body on AI.
“Indonesia harus menjadi bagian dari ekosistem global AI yang mendorong inovasi, namun tetap menjunjung tinggi tanggung jawab sosial. Kerja sama dengan UC Berkeley ini akan menjadi langkah strategis untuk memastikan kedaulatan digital dan perlindungan masyarakat dalam era AI,” tutup Nezar.

