Ekonom DBS: Postur RAPBN 2027 Beri Sinyal yang Baik ke Pasar dan Lembaga Pemeringkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Senior Ekonom DBS Bank, Radhika Rao mengatakan bahwa postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 memberikan sinyal yang baik kepada investor. Sebab, kekhawatiran pasar selama ini adalah batas atas fiskal sebesar 3% dari PDB akan dilanggar.
“Kekhawatiran tersebut telah berhasil diredam oleh target yang diterapkan pemerintah yaitu defisit yang berada di kisaran 2,4-2,5% (dari PDB pada 2027),” kata Radhika, saat The Indonesia Equation: Risks, Returns, and the Road to 2027, yang digelar di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Radhika mengatakan postur RAPBN 2027 ini menunjukkan dua hal. Pertama, terjadinya perbaikan signifikan pengelolaan kas negara pada 2027. Tahun ini, target defisit dalam outlook APBN 2026 yaitu sebesar 2,9% dari PDB.
“Jadi, secara arah kebijakan, pemerintah menunjukkan bahwa konsolidasi fiskal akan tetap dijaga dan batas-batas fiskal akan dipertahankan,” kata dia.
Desain RAPBN 2027 ini menunjukkan bahwa pemerintah memperhatikan pengeluaran yang akan digelontorkan. Radhika melihat bahwa pasar memperhatikan pos anggaran untuk belanja perlindungan sosial dan program unggulan berskala besar.
Akan tetapi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah memberi sinyal bahwa pemerintah akan terus melakukan efisiensi terhadap program-program prioritas pemerintah tersebut pada 2026. Tujuannya, memaksimalkan jangkauan dengan anggaran yang disesuaikan.
Baca Juga
PT Bank DBS Indonesia Resmi Jadi Pemegang Saham Pengendali PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia
“Saya kira, pola seperti ini juga akan dilakukan pada 2027,” jelas dia.
Hal lain yang dilihat Radhika, yang kedua, yaitu pemerintah Indonesia memberi sinyal yang bagi lembaga pemeringkat. Ketiga, yaitu upaya mempertahankan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,5-6% dengan kebijakan belanja yang berorientasi kepada pertumbuhan.
“Jadi, meskipun lingkungan geopolitik sangat sulit, dari sisi sektor pendorong domestik, pemerintah akan lebih memilih kebijakan yang mendukung pertumbuhan,” kata dia.
DBS Bank, kata Radhika, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,2-5,3% pada 2027. Proyeksi ini mempertimbangkan sejumlah risiko global yang terjadi, baik dari sisi geopolitik maupun harga minyak mentah dunia.
