Rupiah Kembali Melemah Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Rupiah melemah 0,57% ke posisi Rp 17.863 per dolar AS pada pukul 09.07 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Pelemahan terpantau terjadi juga pada yuan China, dolar Hong Kong, dan ringgit Malaysia, serta won Korea Selatan dan peso Filipina. Yuan melemah 0,07%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, dan ringgit melemah 0,57%, serta won dan peso, masing-masing melemah 0,64% dan 0,24%.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,01%, dolar Singapura menguat 0,05%, dan baht Tailan menguat 0,07%.
Baca Juga
IHSG Dibuka Anjlok 74 Poin, Sebaliknya Saham JECC hingga PPRE Melesat
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dengan keputusan the Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5-3,75% imbal hasil (yield) US Trrasury tenor 10 tahun naik 4,75 bps menjadi 4,49% (+32 bps ytd). Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) naik di atas 100,3, level tertinggi sejak Maret, seiring pelaku pasar mencermati hasil rapat terbaru FOMC.
"Proyeksi para pembuat kebijakan dinilai lebih hawkish dari perkiraan, dengan sekitar separuh anggota FOMC memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini," kata Andry.
The Fed juga merevisi naik secara signifikan proyeksi inflasi. Proyeksi inflasi2026 dinaikkan menjadi 3,6% dari 2,7% pada proyeksi Maret, sementara inflasi inti kini diperkirakan mencapai 3,3%, naik dari 2,7% sebelumnya.
Baca Juga
Reliance Sekuritas Rekomendasi Beli 3 Saham, Ada TINS hingga SCMA
Pelaku pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps hingga akhir tahun. Sementara itu, Ketua the Fed, Kevin Warsh juga mengumumkan sejumlah perubahan di The Fed, termasuk pembentukan lima gugus tugas yang akan menangani komunikasi bank sentral, neraca, dan berbagai isu lainnya.
Harga emas bertahan di bawah US$ 4.300 per troy ounce setelah turun hampir 2% pada sesi sebelumnya, menyusul sinyal dari Federal Reserve mengenai meningkatnya dukungan terhadap kenaikan suku bunga tahun ini. Harga minyak mentah turun di bawah US$ 76 per barel, melanjutkan pelemahan ke level terendah sejak awal Maret setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran telah menandatangani secara digital perjanjian damai sementara.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman tersebut telah berlaku, meskipun masih belum pasti apakah Iran telah mulai mengambil langkah-langkah untuk membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz.
