Rupiah Melemah, Efek The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (17/9/2026). Nilai tukar mata uang garuda melemah 0,27% menjadi Rp 17.744 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah. Papan data Bloomberg menunjukkan yen China melemah 0,03%, won Korea Selatan melemah 0,4%, ringgit Malaysia melemah 0,51%, dan baht Tailan melemah 0,13%.
Sementara itu, yen Jepang dan dolar Singapura terpantau menguat masing-masing sebesar 0,08% dan 0,05%.
Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz menilai pelemahan rupiah terjadi karena efek keputusan The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75–4,00%. Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2023, seiring kembali mengemukanya kekhawatiran terhadap inflasi.
Keputusan yang diambil secara bulat tersebut disertai penilaian The Fed bahwa aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid, didukung oleh konsumsi domestik yang tetap tangguh, produktivitas yang kuat, serta investasi modal. Dengan pasar tenaga kerja yang masih resilien, fokus The Fed kini semakin bergeser ke arah pemulihan stabilitas harga.
Baca Juga
Menurut Irman, proyeksi ekonomi September memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang restriktif. The Fed menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB AS untuk 2026 dan 2027 menjadi masing-masing 2,3% dan 2,4%, dari sebelumnya 2,2%/2,3%, sekaligus menurunkan proyeksi tingkat pengangguran menjadi 4,1% pada kedua tahun tersebut, dari sebelumnya 4,3%.
Sementara itu, proyeksi inflasi headline/core PCE 2026 sedikit dinaikkan menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,6%. Kombinasi pertumbuhan yang lebih kuat, tingkat pengangguran yang lebih rendah, serta inflasi jangka pendek yang lebih persisten memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk memprioritaskan pengendalian inflasi.
Proyeksi Irman, perekonomian AS yang resilien memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan restriktif lebih lama, sementara inflasi yang masih persisten membatasi alasan untuk melakukan pelonggaran dalam waktu dekat. Meski demikian, risiko tetap condong ke arah pengetatan lebih lanjut apabila inflasi inti, ekspektasi inflasi, atau transmisi kenaikan harga energi (energy pass-through) tetap tinggi.
Bagi Indonesia, kondisi keuangan AS yang tetap restriktif memperkuat pentingnya stabilitas eksternal sebagai kendala utama bagi Bank Indonesia (BI). Imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi dan dolar AS yang menguat dapat membatasi arus masuk portofolio serta memberikan tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu, harga minyak yang tinggi menambah tekanan melalui jalur perdagangan dan transaksi berjalan. Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate akhir tahun sebesar 6,25%, dengan intervensi nilai tukar (FX intervention) dan kebijakan non-suku bunga kemungkinan tetap menjadi garis pertahanan pertama BI.
