Rupiah Terseok ke Rp 17.370 per US$, Pascaputusan The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (30/4/2026). Posisi rupiah melemah 0,26% dan bertengger di posisi Rp 17.370 per US$ pada pukul 09.06 WIB berdasar papan data Bloomberg.
Sementara itu, dolar Singapura, baht Tailan, yen Jepang, dan yuan China bergerak menguat. Dolar Singapura menguat 0,07%, baht menguat 0,15%, yen menguat 0,10%, dan yuan menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan posisi rupiah yang melemah terdesak keputusan the Fed yang kembali mempertahankan Fed Fund Rate (FFR) di posisi 3,5%-3,75%.
“Bagi emerging markets, khususnya Indonesia, ini berarti tekanan biaya pendanaan berbasis dolar AS tetap tinggi. Kecenderungan penguatan indeks dolar AS [DXY] serta ruang yang terbatas bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan secara agresif tanpa membahayakan stabilitas rupiah,” kata Andry, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga
Rupiah Melemah Seiring Penguatan Dolar dan Kekhawatiran Inflasi Global
Keputusan mempertahankan FFR ini muncul karena aktivitas ekonomi tetap tumbuh solid, sementara inflasi tetap tinggi. Akan tetapi, voting secara tidak biasa menjadi perbedaan pendapat terbesar sejak 1992. Empat anggota Federal Open Market Comittee (FOMC) menolak keputusan tersebut.
Stephen I. Miran menginginkan pemangkasan 25 bps pada rapat ini, sementara Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan mendukung penahanan suku bunga tetapi menolak dimasukkannya bias pelonggaran dalam pernyataan resmi, menandakan komite sangat terbelah terkait arah kebijakan ke depan.
Dalam konferensi pers, Ketua the Fed, Jerome Powell memperingatkan bahwa guncangan minyak akibat konflik Timur Tengah “bahkan belum mencapai puncaknya,” dan menegaskan bahwa the Fed ingin melihat “fase penurunan dari guncangan tersebut serta kemajuan terkait tarif sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga.”
Baca Juga
Powell menggambarkan tantangan kebijakan saat ini sebagai upaya mengelola empat guncangan pasokan, yaitu pandemi, perang di Ukraina, tarif perdagangan, dan lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran dan Timur Tengah, yang menciptakan trade-off kebijakan yang sangat sulit bagi komite.
Powell juga mengonfirmasi akan mundur sebagai Ketua The Fed pada 15 Mei, namun tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga investigasi Departemen Kehakiman terhadap The Fed benar-benar selesai. Kevin Warsh telah diajukan sebagai penggantinya.
Inflasi akibat tarif masih diperkirakan mereda dalam dua kuartal ke depan, namun kemajuan menuju target 2% berjalan lebih lambat dari harapan.

