Rupiah Melemah, Beban Pembayaran Subsidi dan Kompensasi Melambung hingga 208,2%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pelemahan rupiah terhadap rupiah selama beberapa pekan terakhir menjadi tantangan dalam pengelolaan APBN. Efek dari pelemahan rupiah ini salah satunya adalah membengkaknya pembayaran subsidi dan kompensasi.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan adanya belanja subsidi dan kompensasi yang melambung hingga 208,2% secara tahunan per Mei 2026. Pembayaran subsidi dan kompensasi tersebut mencapai Rp 203,7 triliun.
“Subsidinya Rp 94,8 triliun, kompensasinya Rp 108,9 triliun,” kata Purbaya, saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juni, dikutip Senin (8/6/2026).
Pembayaran kompensasi ini terbilang besar karena sejak awal tahun ini, pemerintah membayarkan kompensasi energi ke PT Pertamina secara bulanan.
“Kalau tahun lalu di akhir tahun, kalau sekarang sudah mulai 70% di setiap bulan. Nanti September kita hitung semuanya kita bayar yang 30%,” ujar dia.
Baca Juga
Tarif Listrik Tak Naik 9 Tahun, Beban Subsidi dan Kompensasi Tembus Rp 201 Triliun
Dengan metode pembayaran ini, Purbaya mengatakan PT Pertamina memiliki arus kas yang terjaga.
Pembayaran subsidi dan kompensasi ini dilakukan dengan perhitungan nilai tukar rata-rata Rp 17.057 per dolar Amerika Serikat (AS) year to date. Sementara itu, hingga akhir Mei 2026, harga minyak mentah Indonesia mencapai US$ 91,9 per barel.
Dari sisi realisasi, bahan bakar mineral atau BBM yang direalisasikan per Mei 2026 telah mencapai 6,31 juta liter atau naik 8,6% secara tahunan. Sementara itu, realisasi penyaluran LPG 3 kilogram mencapai 2,85 juta ton naik 2,7% secara tahunan.
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada listrik bersubsidi untuk 43 juta pelanggan. Pemerintah juga memantau lonjakan pemberian subsidi pupuk sebesar 3,7 juta ton atau naik 20,7% secara tahunan.
Purbaya mengatakan meski terjadi pelemahan rupiah dan peningkatan harga minyak mentah di tingkat global, anggaran yang telah dibuat belum berubah signifikan.
“Subsidi energi kan sudah kita hitung secara signifikan,” ujar dia.
Purbaya menjelaskan telah mengasumsikan kenaikan harga minyak dunia mencapai US$ 100 per barel. Ini diikuti dengan asumsi nilai rupiah yang lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per US$.
“Jadi, saya enggak harus mengubah simulasi APBN,” kata dia.

