ESDM: 'Shifting' BBM Subsidi ke Non-Subsidi Hasilkan Efisiensi Kompensasi Rp 12,6 T
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan pada 2025 ini telah terjadi shifting atau perubahan pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat. Sebab, warga kini mulai beralih dari yang semula menggunakan BBM bersubsidi ke non-subsidi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebutkan, konsumen yang tadinya pengguna nilai oktan atau research octane number (RON) 90 atau Pertalite cenderung turun dan beralih kepada RON yang lebih tinggi.
“Jadi, kalau kita lihat di sini dari penjualan harian Pertalite yang tahun 2024 itu 81.106 kiloliter (KL) turun menjadi 76.970 KL atau turun sekitar 5,10% di 2025. Sedangkan penjualan bensin non-subsidi naik dari 19.061 KL pada 2024 menjadi 22.723 KL atau naik 19,21%,” kata Laode dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Baca Juga
Laode menegaskan, tren peralihan konsumsi ini memberikan dampak positif terhadap beban anggaran negara. Dengan berkurangnya konsumsi Pertalite, maka beban kompensasi subsidi yang harus dibayar pemerintah ikut menurun.
“Kalau kita lihat, kompensasi Pertalite yang pada 2024 diperkirakan mencapai Rp 48,9 triliun, pada 2025 ini proyeksinya bisa turun menjadi Rp 36,314 triliun. Artinya, terjadi efisiensi sebesar Rp 12,6 triliun dari shifting konsumsi BBM ini,” jelas dia.
Menurut Laode, peningkatan penjualan BBM non-subsidi juga terlihat dari kenaikan pangsa pasar (market share). Pada 2024, pangsa pasar bensin non-subsidi berada di sekitar angka 11%. Namun, pada 2025 berdasarkan data Januari hingga Juli, market share sudah naik menjadi 15%.
“Estimasi penjualan bensin total di 2025 sekitar 1,4 juta KL, dengan kontribusi bensin non-subsidi mencapai 7 juta KL. Angka ini meningkat 0,8 juta KL atau 14,02% dibandingkan tahun sebelumnya,” tambahnya.
Baca Juga
Konsumsi LPG Akan Naik 6,7% dan Pertalite 11,2% Selama Ramadan-Idulfitri
Lebih lanjut, Laode memaparkan bahwa peningkatan konsumsi BBM non-subsidi tidak hanya terjadi pada produk Pertamina, tetapi juga dari badan usaha swasta.
“Penjualan bensin non-subsidi dari non-Pertamina di 2025 diperkirakan mencapai 1,35 juta KL, naik 0,64 juta KL atau sekitar 91,3% dibandingkan tahun lalu,” ungkap Laode.

