Kenaikan BBM Nonsubsidi Dinilai Berisiko Picu Pergeseran Konsumen dan Kebocoran Solar Subsidi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Bima Yudhistira menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamina Dex mengikuti mekanisme pasar seiring naiknya harga minyak mentah dunia.
Namun, ia mengingatkan pemerintah perlu mengantisipasi sejumlah risiko imbas dari lonjakan harga Pertamina Dex yang cukup tinggi. Hal ini mengingat Pertamina Dex tak hanya dipergunakan untuk kendaraan menengah atas, tetapi juga mesin industri.
Baca Juga
Pengamat Nilai Kenaikan BBM Nonsubsidi Takkan Tekan Ekonomi Masyarakat
“DEX ini bukan cuma untuk kendaraan menengah ke atas, tetapi juga digunakan untuk mesin industri dan alat berat di sektor pertambangan maupun perkebunan,” ujar Bima kepada Investortrust.id, Minggu (19/4/2026).
Diketahui, PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, Sabtu (18/4/2026). Produk Pertamax Turbo (RON 98) mengalami lonjakan harga yang sangat signifikan, yakni dari Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.400 per liter alias naik 48%. Hal yang sama terjadi pada harga Pertamina Dex yang melesat dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 atau naik 65%.
Bima menyatakan kenaikan harga Pertamina Dex yang mencapai lebih dari 60% berpotensi mendorong pergeseran konsumsi ke solar subsidi akibat selisih harga yang semakin lebar. Jika hal itu terjadi, pasokan solar subsidi bisa tertekan dan memicu potensi kebocoran.
Untuk itu, Bima menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap distribusi solar subsidi, terutama di luar Pulau Jawa. Pengawasan tersebut mencakup penggunaan untuk sektor logistik maupun alat berat di industri ekstraktif, seperti pertambangan dan perkebunan.
Selain itu, Bima juga menyoroti potensi pergeseran konsumsi pada jenis BBM lainnya. Ia menilai kenaikan harga Pertamax Turbo dapat membuat konsumen beralih ke Pertamax yang selisih harganya masih cukup jauh.
Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan harga BBM nonsubsidi bersifat sementara, seiring tren harga minyak dunia yang mulai menurun setelah meredanya konflik global.
“Harusnya ini temporer karena harga minyak juga mulai turun kembali,” kata Bima.
Baca Juga
Bima mengingatkan pemerintah memastikan tidak terjadi praktik penimbunan maupun penyalahgunaan BBM subsidi. Menurutnya, penegakan aturan dan sanksi terhadap pelaku usaha yang menggunakan BBM subsidi secara tidak tepat harus diperketat.

